Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Buka AI Literacy Summit di GIK UGM, Rektor Ova: AI Harus Jadi Kekuatan Positif, Bukan Ancaman Kemanusiaan

Editor Content • Kamis, 12 Februari 2026 | 11:06 WIB
Rektor UGM Prof Ova Emilia menghadiri AI Literacy Summit Indonesia 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Kamis (12/2/2026).
Rektor UGM Prof Ova Emilia menghadiri AI Literacy Summit Indonesia 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Kamis (12/2/2026).

SLEMAN – Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi menggelar perhelatan AI Literacy Summit Indonesia 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Kamis (12/2/2026).

Mengusung tema filosofis Who Am (A)I? Humanity and Technology, acara ini menjadi panggung refleksi atas pesatnya integrasi kecerdasan buatan dalam kehidupan manusia.

Rektor UGM Prof Ova Emilia menegaskan bahwa literasi terhadap teknologi AI kini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan untuk memastikan teknologi tetap berada dalam kendali etika manusia.

Ova menyampaikan bahwa tema Who Am (A)I? sangat relevan untuk menggali kembali identitas kemanusiaan di tengah kepungan otomatisasi.

Dia menekankan bahwa kemajuan AI harus dipandang sebagai peluang untuk memperkuat kapasitas manusia, bukan justru menggantikannya.

"Kehadiran AI membawa disrupsi di berbagai sektor, mulai dari pendidikan hingga industri kreatif. Melalui AI Literacy Summit ini, kita ingin membangun kesadaran kolektif agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga kritis terhadap dampak moral dan sosial yang ditimbulkan," ujar Ova di hadapan ratusan peserta di GIK UGM.

Pemilihan Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) sebagai lokasi acara juga disoroti sebagai simbol semangat UGM dalam mempertemukan sains, teknologi, dan humaniora.

Ova berharap forum ini dapat melahirkan rekomendasi strategis bagi pengembangan kebijakan AI di Indonesia yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

"Kita tidak boleh membiarkan teknologi berjalan tanpa arah. UGM berkomitmen untuk terus mengawal agar AI menjadi kekuatan positif yang mendukung keberlanjutan masa depan peradaban," imbuhnya.

Acara ini merupakan hasil kolaborasi luas antara akademisi, praktisi teknologi, dan pemerintah. Ova menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Filsafat UGM, ICT Watch, Kemenkominfo, Google, serta berbagai mitra yang telah mewujudkan ruang dialog ini.

AI Literacy Summit Indonesia 2026 dijadwalkan berlangsung dengan rangkaian sesi diskusi panel, workshop literasi digital, hingga pameran inovasi berbasis AI yang diikuti oleh mahasiswa dan peneliti dari berbagai disiplin ilmu.

Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof Rr Siti Murtiningsih menekankan bahwa kehadiran Artificial Intelligence (AI) bukan sekadar persoalan teknis, melainkan tantangan eksistensial bagi umat manusia.

Murti, sapaan isteri Wamenkomdigi Nezar Patria tersebut, menjelaskan bahwa sepanjang sejarah peradaban, pertanyaan mendasar manusia adalah Who am I? atau Siapakah aku?.

Pertanyaan ini berkaitan erat dengan kesadaran, kebebasan, dan tanggung jawab.

Namun, di era kecerdasan artifisial, pertanyaan tersebut bergeser menjadi Who Am (A)I?.

"Setiap pertanyaan tentang AI akan selalu kembali pada identitas kita sebagai manusia. AI tidak lahir dari ruang hampa, ia lahir dari cara kita manusia memahami dunia, merumuskan rasionalitas, dan memaknai kecerdasan kita sendiri," ujar Murti.

Lebih lanjut, dia menyoroti perkembangan AI dalam satu dekade terakhir yang sangat masif.

Meskipun membawa efisiensi, AI juga membawa dampak serius yang perlu diwaspadai, mulai dari algoritma yang memengaruhi opini publik hingga fenomena sosial yang meresahkan.

Beberapa isu krusial yang disinggung antara lain tentang Kesehatan Mental: Dampak penggunaan teknologi yang berlebihan pada psikologis generasi muda.

Konten Negatif: Maraknya judi online (judol), ketergantungan pada game, hingga konten pornografi yang terakselerasi oleh teknologi internet.

Pengambilan Keputusan: Bagaimana algoritma kini tidak hanya mengolah data, tetapi juga mulai menentukan "nasib" manusia dalam berbagai aspek kehidupan.

Murti mengajak peserta summit untuk berhenti sejenak dan merefleksikan arah teknologi.

Ia menegaskan bahwa manusia tidak boleh hanya hidup dalam logika efisiensi, prediksi, dan optimasi seperti mesin.

"Manusia akan selalu hidup dalam apa yang disebut sebagai makna, nilai, relasi, dan tanggung jawab moral. Itulah yang membedakan mesin yang belajar (machine learning) dengan manusia yang memiliki kemampuan untuk memaknai," pungkasnya.

Baca Juga: Peresmian Collab Hub di GIK UGM Yogyakarta, Kolaborasi Akademik dan Industri untuk Inovasi Talenta Muda

Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen, mulai dari perwakilan Kemenkominfo, tim disabilitas, praktisi teknologi, hingga mahasiswa dari berbagai lintas fakultas di UGM seperti Fisipol, Ekonomi, dan Teknik, yang turut berkolaborasi dalam riset-riset mengenai masa depan AI di Indonesia. (iwa)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Gelanggang Inovasi dan Kreativitas #AI Literacy Summit Indonesia #Siti Murtiningsih #AI Literacy Summit Indonesia 2026 #artificial intelligence #AI Literacy Summit #Ova Emilia