Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Human Zoo: Sejarah Kelam Pameran Manusia Asli di Eropa dan Amerika, Bentuk Dehumanisasi yang Dulu Dijadikan Hiburan Publik

Iwa Ikhwanudin • Minggu, 15 Februari 2026 | 09:54 WIB
Fenomena "human zoo" jadi atraksi massal di Eropa dan Amerika pada abad 19-20, di mana orang pribumi dipamerkan dalam kandang.
Fenomena "human zoo" jadi atraksi massal di Eropa dan Amerika pada abad 19-20, di mana orang pribumi dipamerkan dalam kandang.

RADAR MALIOBORO – Fenomena "human zoo" jadi atraksi massal di Eropa dan Amerika pada abad 19-20, di mana orang pribumi dipamerkan dalam kandang demi "pendidikan" dan hiburan.

Sejarah ini mengingatkan betapa rapuhnya kemajuan peradaban manusia. 

Sebuah unggahan edukatif di Instagram @oddlynews kembali mengingatkan publik tentang salah satu bab terkelam dalam sejarah kolonialisme dan rasisme dunia: human zoo atau "kebun binatang manusia".

Dalam postingan carousel tersebut yang viral dibagikan luas, diceritakan bagaimana pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, ribuan orang pribumi dari Afrika, Asia, dan wilayah lain dipamerkan secara terbuka di Eropa dan Amerika Serikat.

Mereka ditempatkan dalam kandang, di balik pagar, atau di desa-desa palsu buatan, sementara pengunjung membayar tiket untuk menonton, menertawakan, bahkan menghakimi.

"Ada masa ketika kekejaman tidak disembunyikan, melainkan diiklankan sebagai hiburan," tulis akun @oddlynews dalam caption panjangnya. 

"Manusia dipamerkan dalam kandang, di balik pagar, dan di desa-desa palsu sementara kerumunan membayar untuk menatap, tertawa, dan menghakimi.Ini bukan horor kuno, melainkan atraksi publik di Eropa dan Amerika yang dikunjungi jutaan orang dan dipromosikan sebagai pendidikan."

Menurut narasi tersebut, para korban—pria, wanita, dan anak-anak pribumi—dicabut martabatnya.

Mereka dipaksa melakukan perilaku panggung, diberi makan seperti hewan, dan menjadi objek studi bagi ilmuwan yang menggunakan penderitaan mereka untuk membenarkan kebohongan rasis.

Banyak yang diculik, ditipu, dan tak pernah pulang ke kampung halamannya. Trauma berlanjut seumur hidup bahkan setelah "pameran" ditutup.

Human zoo mencapai puncak popularitas antara tahun 1870-an hingga 1930-an, dengan beberapa kasus berlanjut hingga 1950-an. Pameran ini sering dikemas sebagai eksposisi etnografi atau "pertunjukan dunia" (world's fair), namun pada hakikatnya merupakan bentuk dehumanisasi massal yang disahkan masyarakat saat itu.

Postingan tersebut menegaskan bahwa human zoo menjadi pengingat betapa rapuhnya kemajuan peradaban.

"Dehumanisasi bisa dinormalisasi ketika masyarakat setuju untuk memalingkan muka," demikian bunyi caption. "Sejarah ini tidak nyaman, tapi melupakannya adalah cara agar hal serupa terjadi lagi dengan nama dan alasan berbeda."

Akun @oddlynews menambahkan disclaimer: "Ini hanya untuk tujuan edukasi".

Meski peristiwa ini terjadi di belahan dunia lain, kisah ini relevan sebagai bahan refleksi bagi masyarakat Indonesia yang juga pernah mengalami penjajahan dan diskriminasi rasial.

Fenomena serupa mengajarkan pentingnya menjaga nilai kemanusiaan, toleransi, dan melawan segala bentuk rasisme serta eksploitasi manusia di era modern—baik dalam bentuk perdagangan manusia, diskriminasi sistemik, maupun konten eksploitatif di media sosial.

Human zoo adalah pameran hidup di mana orang-orang dari kelompok etnis tertentu (terutama pribumi koloni) dipamerkan untuk umum sebagai objek "eksotis". Praktik ini banyak dikritik sebagai bagian dari propaganda kolonial dan supremasi ras. (iwa)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#rasis #Human Zoo #kolonialisme #dehumanisasi #Rasis dan Diskriminatif