Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Sesar Opak Melintasi Segarayasa Pleret, Bantul, Bekas Danau Buatan Era Mataram Islam – Ancaman Gempa Masih Mengintai Wilayah Jogja Selatan

Editor Content • Senin, 16 Februari 2026 | 18:05 WIB
Ilustrasi Sesar Opak.
Ilustrasi Sesar Opak.

RADAR MALIOBORO - Sesar Opak aktif kembali menjadi perbincangan setelah gempa magnitudo 4,5 mengguncang Gunungkidul pada 27 Januari 2026 lalu. 

Pakar geologi dan sejarah mengingatkan, salah satu zona paling rawan adalah kawasan Segarayasa di Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, yang dulunya merupakan danau buatan era Kesultanan Mataram Islam.

Berdasarkan analisis overlay peta Google Earth yang dibagikan The Ekliptika Institute melalui akun X @marufins, Sesar Opak melintas tepat di tengah bekas dasar Segarayasa. 

Tanah sedimen lunak bekas danau ini memperkuat guncangan saat Gempa Yogya 27 Mei 2006 (M 6,3), sehingga kerusakan di wilayah Pleret dan sekitarnya termasuk yang paling parah dengan korban jiwa lebih dari 5.700 orang secara keseluruhan di DIY dan Jateng.

Segarayasa dibangun pada masa Sultan Agung hingga Amangkurat I sebagai bagian dari benteng pertahanan Kedaton Karta dan Pleret. 

Danau buatan ini berfungsi sebagai parit pertahanan, pengendali banjir, hingga tempat latihan angkatan laut Kerajaan Mataram. 

Lokasi istana yang dikelilingi air menjadikannya seperti pulau benteng, namun kini justru menjadi faktor penguat risiko gempa karena karakteristik tanah lunaknya.

Penelitian geologi terkini menyebut Sesar Opak sebagai patahan geser aktif sepanjang sekitar 47 km dengan laju pergeseran rata-rata 2 mm/tahun dan potensi magnitudo maksimum hingga M 6,9. 

Gempa 2006 melepaskan sebagian energi di segmen utara, namun segmen lain masih menyimpan potensi pelepasan energi besar. 

Siklus gempa kuat di sesar ini diperkirakan terjadi rata-rata setiap 60–130 tahun, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan meski aktivitas kecil seperti gempa M 4,5 Januari lalu masih sering terjadi.

Kondisi ini diperparah oleh amplifikasi getaran di endapan vulkanik muda Merapi dan sedimen kuarter sepanjang alur Sungai Opak. 

Beberapa studi morphotectonic menunjukkan zona Pleret-Segoroyoso termasuk kategori tingkat tektonik tinggi, sehingga memerlukan mitigasi serius.

Pemerintah daerah dan masyarakat diminta terus memperkuat upaya mitigasi, mulai dari retrofitting bangunan tahan gempa, pemetaan mikrozonasi bahaya gempa, hingga edukasi kesiapsiagaan bencana. 

“Kombinasi sesar aktif dan tanah lunak bekas danau membuat kawasan ini tetap berisiko tinggi,” tulis akun @marufins dalam utas terbarunya. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#gempa jogja #kabupaten bantul #sesar opak #segoroyoso #mitigasi gempa