SWISS – Tahukah Anda? Hand sanitizer berbasis alkohol yang menjadi andalan saat pandemi COVID-19 ternyata berasal dari penemuan ilmuwan Swiss.
Formula gel hydroalkohol ini pertama kali diciptakan pada 1976 di Rumah Sakit Kantonal Fribourg oleh apoteker William Griffiths, kemudian disempurnakan di Rumah Sakit Universitas Geneva (HUG) oleh Profesor Didier Pittet pada 1990-an.
Penemuan ini bukan hanya mengubah praktik kebersihan tangan di rumah sakit, tetapi juga menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia.
Formula tersebut diberikan secara gratis kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tanpa paten, sehingga bisa diproduksi dengan biaya rendah di mana saja, termasuk di negara berkembang.
Pada 1974, manajemen Rumah Sakit Kantonal Fribourg menugaskan William Griffiths untuk mengembangkan solusi disinfeksi tangan berbasis alkohol.
Setelah dua tahun riset, lahir campuran air, alkohol sintetis, dan chlorhexidine yang lebih praktis daripada mencuci tangan dengan sabun biasa.
Griffiths kemudian melanjutkan karyanya di HUG Geneva.
Di sana, Profesor Didier Pittet, pakar penyakit infeksi, melihat bahwa tenaga medis harus mencuci tangan hingga 20 kali per jam—proses yang memakan waktu dan sering diabaikan.
Kolaborasi dengan Griffiths menghasilkan formula gel hydroalkohol yang lebih cepat dan efektif.
Model ini dikenal sebagai "Geneva Hand Hygiene Model".
Pittet membuktikan bahwa penggunaan hand rub berbasis alkohol jauh lebih baik dalam mencegah infeksi nosokomial (infeksi yang didapat di rumah sakit) dibandingkan sabun tradisional, terutama di daerah dengan keterbatasan air bersih.
Yang membuat penemuan ini luar biasa adalah semangat berbagi.
Didier Pittet dan William Griffiths menyerahkan formula lengkap beserta hak patennya kepada WHO.
Hasilnya? Setiap fasilitas kesehatan di dunia bisa memproduksi sendiri hand sanitizer sesuai standar WHO dengan bahan murah dan mudah didapat.
Menurut estimasi Profesor Pittet, praktik kebersihan tangan ini menyelamatkan 5 hingga 8 juta nyawa setiap tahun secara global.
Angka ini disebut sebagai estimasi konservatif berdasarkan penurunan infeksi di rumah sakit di berbagai negara.
Selama pandemi COVID-19, gel hydroalkohol Swiss ini menjadi salah satu senjata utama melawan penyebaran virus.
Masyarakat di mana-mana, termasuk di Indonesia, mengandalkannya untuk menjaga kebersihan tangan saat air dan sabun tidak selalu tersedia.
Meski sangat bermanfaat, formula awal yang mengandung chlorhexidine sempat menyebabkan reaksi alergi pada sebagian tenaga kesehatan dan pasien yang menggunakannya setiap hari.
Oleh karena itu, formula WHO yang direkomendasikan saat ini diformulasikan ulang agar lebih aman dan tetap efektif.
Penemuan ini menjadi bukti bagaimana satu ide sederhana dari rumah sakit kecil di Swiss bisa berdampak besar bagi umat manusia.
"Clean Your Hands" bukan sekadar slogan, melainkan gerakan yang benar-benar menyelamatkan nyawa.
Di era pasca-pandemi seperti sekarang, ingatkan diri kita: cuci tangan atau pakai hand sanitizer secara rutin tetap menjadi kebiasaan paling murah dan efektif mencegah penyakit menular. (iwa)
(Sumber: Utas resmi About Switzerland di X (Twitter), House of Switzerland, serta pernyataan Profesor Didier Pittet)
Editor : Iwa Ikhwanudin