JAKARTA – Persaingan ketat di industri minimarket Indonesia semakin menunjukkan dominasi Alfamart atas Indomaret.
Berdasarkan data terbaru dari Nikkei Asia, gap penjualan dan laba kedua raksasa ritel modern ini terus melebar sejak 2021, dengan Alfamart unggul jauh di 2025.
Menurut laporan Nikkei Asia yang dirilis Selasa (24/3/2026), Alfamart berhasil mencatatkan penjualan yang melampaui Indomaret hingga Rp120 triliun, sementara selisih laba bersih mencapai Rp4 triliun pada 2025.
Grafik perbandingan yang dirilis media asal Jepang tersebut menunjukkan Alfamart terus meninggalkan Indomaret dalam hal performa keuangan, meski keduanya masih mendominasi pasar minimarket Tanah Air.
Alfamart Genjot Quick Commerce Lewat Alfagift
Di tengah perlambatan daya beli kelas menengah, Alfamart tak tinggal diam.
Perusahaan gencar mengembangkan quick commerce melalui aplikasi Alfagift.
Strategi ini berhasil mendongkrak kontribusi penjualan online hingga 8 persen dari total revenue.
Alfamart juga berencana membuka 50 dark store baru guna mempercepat pengiriman pesanan.
Langkah ini diharapkan bisa membalikkan tren perlambatan yang sempat terjadi, di mana laba bersih Alfamart sempat turun 3,5 persen di awal 2025 akibat penyusutan pengeluaran masyarakat kelas menengah.
Sinyal Bahaya untuk Industri Ritel Modern
Meski Alfamart unggul, seorang analis di balik utas X (Twitter) menyoroti fakta penting yang sering terlewat.
Keduanya justru mengalami penurunan penjualan sejak 2023.
Penjualan Indomaret bahkan sudah berada di bawah level 2019, sementara Alfamart meski masih di atas, trennya mengikuti arah yang sama.
"Bukan sekadar cerita kompetisi, tapi sinyal peringatan dini bagi sektor ritel," tulis akun @HidsalJ yang mengomentari postingan Nikkei Asia.
Tiga hipotesis yang patut diuji: erosi daya beli kelas menengah, serbuan quick commerce seperti GoMart dan GrabMart, serta saturasi gerai yang sudah berlebihan.
Hingga pertengahan 2025, Alfamart mengoperasikan sekitar 20.673 gerai, sementara Indomaret masih memimpin jumlah dengan lebih dari 23.000 unit.
Namun, efisiensi dan strategi digital Alfamart membuatnya lebih profitable meski gerai lebih sedikit.
Dampak ke Jogja dan Daerah Lain
Di Yogyakarta dan sekitarnya, kehadiran minimarket Alfamart dan Indomaret sudah menjadi bagian keseharian masyarakat.
Namun, tren nasional ini patut menjadi perhatian pelaku usaha lokal.
Banyak warung tradisional dan UMKM merasakan tekanan persaingan, terutama di tengah melemahnya daya beli.
Pemerintah daerah DIY diharapkan terus memantau regulasi penempatan minimarket agar tidak merugikan pedagang kecil, sekaligus mendorong inovasi digital seperti yang dilakukan Alfamart. (iwa)
(Sumber: laporan Nikkei Asia)
Editor : Iwa Ikhwanudin