Dubai, 31 Maret 2026 – Ketegangan konflik AS-Israel-Iran memasuki babak baru yang mengguncang pasar energi dunia.
Tanker minyak mentah raksasa berbendera Kuwait, Al-Salmi, yang membawa sekitar 2 juta barel minyak, diserang drone Iran di perairan dekat Pelabuhan Dubai, Uni Emirat Arab, pada Selasa dini hari.
Serangan tersebut memicu kebakaran hebat, meski api berhasil dipadamkan dengan cepat oleh tim pemadam kebakaran maritim Dubai.
Tidak ada korban jiwa atau cedera di antara 24 awak kapal.
Kuwait Petroleum Corporation (KPC) sebagai pemilik kapal menyatakan serangan drone Iran menyebabkan kerusakan lambung kapal dan kebakaran.
Pihak berwenang Dubai mengonfirmasi tidak terjadi tumpahan minyak signifikan hingga saat ini, meski sempat muncul kekhawatiran lingkungan.
Kapal tersebut sedang berlabuh di zona jangkar Pelabuhan Dubai sebelum melanjutkan perjalanan ke China.
Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras.
Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan "mengobliterasi" seluruh pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg (pusat ekspor minyak utama Iran) jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali paling lambat 6 April 2026.
Ancaman ini disampaikan di tengah upaya perundingan tidak langsung yang mandek, meski Trump sempat menyebut "kemajuan besar" dengan rezim Iran yang dinilainya "lebih masuk akal".
Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia, praktis tertutup sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026.
Penutupan ini telah memicu lonjakan harga minyak mentah global.
Harga Brent sempat menyentuh di atas $115 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran $101-105 per barel.
Di Amerika Serikat, harga bensin rata-rata nasional telah melampaui $4 per galon untuk pertama kalinya sejak lebih dari tiga tahun lalu, menurut data GasBuddy.
Dampak Ekonomi Global yang Dirasa Sampai Indonesia
Lonjakan harga energi ini tidak hanya dirasakan di Timur Tengah dan Amerika.
Maskapai penerbangan seperti Korean Air terpaksa masuk mode darurat mulai April 2026 karena biaya operasional membengkak akibat harga avtur yang melambung.
Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pemerintah negara-negara tetangga mendesak China untuk memenuhi komitmen keamanan energi, termasuk ekspor pupuk dan bahan bakar yang sempat dibatasi.
Bagi Indonesia sebagai negara importir minyak bersih, kenaikan harga minyak mentah ini berpotensi menekan subsidi BBM dan inflasi.
Harga bahan bakar di pompa bensin domestik kemungkinan akan ikut terdampak jika gejolak berlanjut, meski pemerintah saat ini masih menjaga stabilitas melalui cadangan dan kebijakan subsidi.
Konflik yang kini memasuki hari ke-31 ini semakin memperlihatkan sisi ekonomi perang.
Serangan terhadap kapal komersial bukan hanya eskalasi militer, tapi juga serangan terhadap rantai pasok energi global.
Analis memperingatkan risiko tumpahan minyak di perairan Teluk yang bisa merusak lingkungan dan memperburuk krisis.
Pihak Iran belum memberikan komentar resmi atas serangan terhadap Al-Salmi, sementara AS dan Israel terus melanjutkan operasi mereka di wilayah tersebut.
Semua pihak kini menanti apakah ancaman Trump akan menjadi kenyataan atau perundingan bisa mencapai terobosan sebelum batas waktu 6 April. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin