Yogyakarta – Nilai tukar rupiah kembali mencetak rekor memilukan. Pada Selasa (7/4/2026), 1 USD tembus Rp17.101. Angka ini melampaui level terlemah rupiah saat krisis moneter 1998 yang sempat menyentuh Rp16.800 per dolar AS.
Data yang beredar luas di media sosial, termasuk utas dari akun @TxtdariHI, menunjukkan grafik Morningstar yang menggambarkan pelemahan rupiah secara konsisten selama lima tahun terakhir. Pelemahan ini memicu kekhawatiran publik, terutama di kalangan masyarakat Jogja yang banyak bergantung pada harga barang impor dan pariwisata.
Menurut berbagai analisis yang beredar di diskusi publik, pelemahan rupiah dipicu oleh faktor global dan domestik:
Penguatan dolar AS akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya eskalasi konflik yang mendorong harga minyak dunia naik tajam.
Baca Juga: Terus Konsisten Berikan Edukasi Berkendara Astra Motor Yogyakarta Sambangi SMKN 1 Purworejo
Capital outflow atau arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, karena investor mencari aset aman (safe haven) seperti dolar.
Kebutuhan dolar yang meningkat untuk impor BBM dan bahan baku, ditambah defisit anggaran yang disebut-sebut mencapai Rp240 triliun hanya dalam tiga bulan pertama 2026.
Pelemahan ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Beberapa mata uang Asia lainnya juga tertekan, meski rupiah disebut menjadi salah satu yang paling parah.
Bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, rupiah yang melemah berarti beban ekonomi yang lebih berat:
Harga barang naik: Barang impor seperti elektronik, gadget, suku cadang kendaraan, hingga bahan baku makanan olahan (kedelai, gandum) berpotensi melambung. Di pasar tradisional Jogja, harga plastik kemasan dan produk retail impor sudah mulai terasa naik.
Tiket pesawat dan wisata: Beberapa warga melaporkan harga tiket pesawat domestik (misalnya Surabaya-Denpasar) melonjak dari Rp700-800 ribu menjadi hampir Rp1 juta.
Inflasi dan daya beli: Biaya hidup sehari-hari bisa meningkat, terutama bagi keluarga yang bergantung pada produk impor atau industri manufaktur.
Sektor pariwisata: Meski ekspor bisa lebih kompetitif, sektor wisata Jogja yang banyak melibatkan impor barang pendukung (souvenir, bahan makanan hotel) berisiko terdampak.
Di sisi lain, ada sisi positif bagi eksportir komoditas seperti furnitur, tekstil, atau produk pertanian Jogja yang bisa lebih murah di pasar internasional.
Diskusi di media sosial ramai dengan kekhawatiran. Banyak netizen membandingkan situasi ini dengan krisis 1998 dan mempertanyakan langkah pemerintah serta Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah. Beberapa pihak menilai pelemahan ini terjadi secara gradual sehingga tidak langsung memicu demo massal, meski dampaknya perlahan dirasakan masyarakat.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya menyatakan pelemahan rupiah banyak dipengaruhi tekanan pasar global, termasuk kebutuhan valas domestik. Pemerintah disebut sedang memantau ketat agar tidak berdampak lebih luas pada APBN dan inflasi.
Ekonom menyarankan masyarakat untuk lebih bijak mengelola keuangan:
Kurangi ketergantungan pada barang impor jika memungkinkan.
Pertimbangkan instrumen investasi yang bisa jadi lindung nilai (hedging), seperti emas atau aset yang tidak terlalu terpapar dolar.
Pelaku usaha kecil di Jogja disarankan memantau harga bahan baku dan melakukan penyesuaian harga secara bertahap. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin