Yogyakarta – Rupiah terus merosot tajam dan menyentuh level terendah sepanjang masa terhadap dolar Amerika Serikat.
Dalam sebulan terakhir, mata uang Garuda sudah melemah lebih dari 3,5 persen, memicu kekhawatiran masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Penyebab utama pelemahan ini adalah penguatan dolar AS secara global, harga minyak mentah dunia yang melambung di atas 110 dolar per barel, serta kekhawatiran investor terhadap rencana belanja besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Program makan siang gratis sekolah dan defisit anggaran yang mendekati batas maksimal menjadi sorotan pasar.
Bank Indonesia (BI) langsung turun tangan melakukan intervensi di pasar valuta asing. BI juga berpotensi menaikkan suku bunga acuan hingga 5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur yang berakhir Rabu hari ini, demi menahan laju pelemahan rupiah.
Langkah ini diambil meski proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih solid di kisaran 5 persen.
Di Yogyakarta, dampak pelemahan rupiah sudah mulai terasa. Banyak warga mengeluhkan harga bahan pangan dan kebutuhan import yang semakin mahal.
Di media sosial, netizen Jogja ramai membagikan unek-unek. Ada yang bercanda, “Dolar 10 saja dari luar negeri sudah cukup buat makan seminggu di Jogja.”
Sejumlah pengusaha kecil dan menengah di kawasan Malioboro dan pasar tradisional mengaku tertekan.
Baca Juga: Kue Basah Kekinian Jadi Andalan, Disperindag Sleman Dorong Peluang Usaha Baru
“Bahan baku naik, biaya produksi ikut naik. Kalau rupiah terus seperti ini, terpaksa kami naikkan harga,” ujar salah seorang pelaku usaha makanan olahan di Jogja.
Pemerintah daerah DIY diharapkan segera memberikan stimulus bagi UMKM dan memantau distribusi sembako agar tidak terjadi kelangkaan atau kenaikan harga berlebihan di tingkat konsumen.
Situasi ini menjadi ujian awal bagi pemerintahan Prabowo-Gibran di tengah optimisme pertumbuhan ekonomi.
Masyarakat Jogja dan seluruh Indonesia kini menanti langkah konkret BI dan pemerintah pusat untuk menstabilkan nilai tukar dan menjaga daya beli masyarakat.
Editor : Iwa Ikhwanudin