Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mencetak rekor baru yang memprihatinkan. Pada Kamis (4/6/2026), rupiah menyentuh level terlemah sepanjang masa di Rp18.028 per dolar AS, meski Bank Indonesia (BI) terus berupaya melakukan intervensi untuk menstabilkan mata uang Garuda.
Menurut laporan Al Jazeera yang viral di media sosial X, rupiah berada di posisi 18.028 terhadap greenback pada perdagangan Kamis pagi.
Angka ini melampaui rekor-rekor sebelumnya yang sempat menyentuh kisaran Rp17.000-an sejak awal 2026.
Pelemahan rupiah yang berkepanjangan ini dipicu oleh beberapa faktor utama:
Harga minyak dunia yang melonjak akibat konflik di Timur Tengah, memperlebar defisit perdagangan Indonesia sebagai negara importir minyak.
Penguatan dolar AS secara global.
Keluarnya modal asing (capital outflow) dari pasar domestik.
Kekhawatiran investor terhadap belanja fiskal pemerintah yang tinggi.
Meski BI telah melakukan intervensi di pasar valuta asing dan menaikkan suku bunga, tekanan terhadap rupiah belum juga mereda.
Bagi masyarakat Indonesia, pelemahan rupiah ini akan berdampak langsung pada:
Kenaikan harga barang impor, termasuk bahan bakar minyak (BBM), bahan pangan, dan obat-obatan.
Tekanan inflasi yang bisa semakin tinggi.
Biaya hidup sehari-hari yang semakin berat, terutama bagi kelas menengah bawah.
Di sisi lain, eksportir mungkin mendapat keuntungan karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
Namun, secara keseluruhan, dampak negatif terhadap daya beli masyarakat dinilai lebih dominan.
Pemerintah dan Bank Indonesia dikabarkan terus memantau situasi ini.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sempat menyatakan bahwa pelemahan rupiah tidak akan terlalu berdampak pada masyarakat desa yang tidak menggunakan dolar dalam transaksi sehari-hari.
Namun, banyak ekonom mengingatkan bahwa efek domino dari rupiah lemah akan dirasakan secara luas melalui rantai pasok dan inflasi.
Apakah rupiah akan terus melemah atau ada harapan pemulihan dalam waktu dekat?
Editor : Iwa Ikhwanudin