Padang – Jagat media sosial kembali ramai dibahas video viral yang menunjukkan wisatawan Malaysia memborong barang kebutuhan sehari-hari dalam jumlah besar di supermarket Padang dan Bukittinggi, Sumatera Barat.
Mereka mengisi kereta belanja hingga penuh, bahkan ada yang menyewa truk untuk membawa pulang belanjaan.
Video yang diunggah akun @indepenSumatera tersebut telah ditonton ratusan ribu kali hanya dalam waktu singkat.
Dalam rekaman, terlihat para wisatawan, kebanyakan perempuan, dengan antusias memilih berbagai produk seperti mie instan, sembako, dan barang kebutuhan rumah tangga lainnya.
Banyak netizen terkaget karena volume belanjaan yang "tidak wajar" untuk ukuran wisatawan biasa.
Fenomena ini tak lepas dari selisih nilai tukar mata uang.
Saat ini, 1 Ringgit Malaysia (MYR) setara dengan sekitar Rp4.450 – Rp4.490.
Dengan kurs tersebut, daya beli wisatawan Malaysia di Indonesia menjadi sangat tinggi.
Baca Juga: Belajar dari Kasus Ibu Lakban Anak di Bantul, Simak Langkah Mengatasi Burnout Pengasuhan
Harga barang di lokal terasa jauh lebih murah dibandingkan di negeri Jiran.
Banyak komentar netizen menyebutkan bahwa dengan membawa beberapa ribu Ringgit, mereka bisa membeli barang dalam jumlah besar.
Beberapa bahkan membandingkan harga Pop Mie atau sosis yang jauh lebih terjangkau di Indonesia.
Fenomena ini memicu beragam reaksi di media sosial:
Baca Juga: FBI Luncurkan Daftar Top 10 Most Wanted Fraudsters, Inisiatif JD Vance Bidik Kerugian Miliaran Dolar
Positif: Banyak yang melihat ini sebagai peluang ekonomi. “Bagus, warung dan supermarket ramai, uang masuk ke daerah,” tulis salah seorang pengguna.
Kritik: Sebagian besar menyoroti kondisi ekonomi Indonesia. “Malu negara kita diginiin,” “Rupiah lemah gara-gara apa?” dan “Gaji UMR kita terlalu rendah dibanding tetangga” menjadi komentar yang sering muncul.
Ada pula yang mengingatkan potensi kekurangan stok barang bagi warga lokal jika tren ini terus berlanjut tanpa regulasi yang tepat, serta risiko kenaikan harga oleh oknum pedagang.
Padang dan Bukittinggi memang sudah lama menjadi destinasi favorit wisatawan Malaysia.
Selain kuliner khas Minang yang mendunia, harga yang kompetitif dan jarak tempuh yang relatif dekat (tiket pesawat murah) membuat kedua kota ini semakin diminati.
Fenomena belanja massal ini diharapkan dapat mendorong sektor pariwisata dan UMKM Sumatera Barat.
Namun di sisi lain, menjadi cerminan perlunya peningkatan daya beli masyarakat Indonesia agar tidak selalu menjadi "penonton" di negeri sendiri.
Apakah ini peluang atau justru ironi ekonomi?
Editor : Iwa Ikhwanudin