RADAR MALIOBORO - Nilai tukar mata uang rupiah kembali melemah hingga menembus angka Rp18.042 per dolar AS. Angka ini adalah catatan terburuk sepanjang sejarah Indonesia setelah sebelumnya rupiah pernah berada di angka Rp16.800 pada tahun 1998.
Kondisi merosotnya nilai tukar ini memutar kembali ingatan publik pada momen saat Indonesia berhasil keluar dari keterpurukan serupa. Kejadian fenomenal tersebut berlangsung di bawah kepemimpinan Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie.
Ketika mengemban amanah di puncak Krisis Moneter 1998, BJ Habibie dihadapkan pada situasi pelik di mana dolar AS sedang melambung hingga Rp16.800. Namun, BJ Habibie mampu meredam gejolak tersebut dan menekan Dolar AS jatuh ke level Rp6.550 dalam waktu satu tahun lima bulan.
Baca Juga: Mark Lee Ex-NCT Dirikan Label Agensi Independen, Upper Room
Saat itu, BJ Habibie mengambil langkah berani dengan merestrukturisasi sektor perbankan dengan menggabungkan beberapa bank menjadi bank baru yang lebih kuat dari sisi permodalan dan pendanaan. Salah satunya adalah lahirnya Bank Mandiri yang merupakan penggabungan empat bank milik pemerintah.
Di saat yang sama, lewat UU No.23 tahun 1999, Bank Indonesia (BI) secara resmi dipisahkan dari struktur pemerintahan untuk memutus penekanan dari penguasa. Langkah pemisahan ini berhasil mentransformasi BI menjadi lembaga independen yang pada gilirannya memulihkan kepercayaan masyarakat serta pasar.
Dari kebijakan ini, sentimen positif pasar terhadap perekonomian Indonesia kembali pulih secara signifikan. Kepercayaan yang meningkat ini berhasil menarik kembali aliran modal dari para investor asing untuk masuk ke dalam negeri.
Dampak positif lainnya, nilai tukar rupiah mengalami penguatan yang sangat progresif hingga akhirnya mampu menyentuh angka Rp6.550 per dolar AS di penghujung masa jabatan BJ Habibie sebagai presiden. (Bunga Faizati Hudianna).
Editor : Iwa Ikhwanudin