RADAR MALIOBORO - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green yang diberlakukan PT Pertamina Patra Niaga mulai 10 Juni 2026 memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.
Selisih harga yang signifikan menjadi pemicu utama beralihnya konsumen ke BBM bersubsidi. Saat ini, Pertamax dibanderol seharga Rp16.250 per liter, sedangkan Pertalite masih bertahan di angka Rp10.000 per liter.
Kondisi tersebut seketika memicu gelombang panic buying di tengah masyarakat. Warga khawatir serbuan konsumen ke varian Pertalite akan memicu kelangkaan, sehingga berpotensi memengaruhi ketersediaan BBM bersubsidi tersebut dalam waktu dekat.
Sebelumnya, Pertamina melalui Sekretaris Perusahaannya, Roberth MV Dumatubun mengatakan kenaikan harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator.
Pecahnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran menjadi faktor utama yang menyebabkan kenaikan BBM ini. Hal tersebut menyebabkan harga BBM yang diimpor oleh Pertamina dari luar negeri lebih tinggi daripada harga BBM yang dijual di dalam negeri.
Dikutip dari Antara News, VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan mengatakan Pertamina mengimpor BBM dengan harga tinggi, jika di dalam negeri dijual dengan harga rendah maka untuk mengimpor BBM lagi tidak akan mendapatkan volume yang sama.
Baca Juga: Akhiri Vakum 18 Tahun, Dee Lestari Rilis Album (Jangan) Jatuh Cinta dan Bersiap Terbitkan Buku Puisi
“Kami ingin memberikan pesan bahwa ini (harga BBM) memang perlu naik karena kondisinya memang harus kami pastikan terkait dengan ketersediaan suplai di market,” kata Sigit. (Bunga Faizati Hudianna).
Editor : Iwa Ikhwanudin