Keputusan Perry Warjiyo mengakhiri pengabdiannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Senin (27/7/2026) menjadi perhatian publik. Setelah sekitar 42 tahun berkarier di bank sentral, sosok yang dikenal sebagai ekonom kebijakan moneter itu resmi mengundurkan diri, menutup perjalanan panjang yang dimulai dari posisi staf hingga memimpin BI selama dua periode.
Lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 25 Februari 1959, Perry menempuh pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ketertarikannya pada ilmu eknomi kemudian membawanya melanjutkan studi ke lowa State University, Amerika Serikat. Di kampus tersebut ia meraih gelar Master of Arts (M.A.) dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) di bidang Moneter dan Ekonomi Internasional.
Karier Perry di Bank Indonesia dimulai pada 1984. Selama puluhan tahun, ia dipercaya mengemban berbagai posisi strategis yang berkaitan dengan riset ekonomi, kebijakan moneter, hingga hubungan internasional. Pengalaman tersebut turut membawanya menjadi Executive Director yang mewakili kelompok negara Asia Tenggara di Dana Moneter Internasional (IMF), sebelum kembali melanjutkan karier di BI.
Perjalanan panjang itu berlanjut ketika Perry dilantik sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia pada 2013. Lima tahun kemudian, Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Gubernur BI untuk periode 2018-2023. Kepercayaan tersebut kembali diberikan untuk masa jabatan kedua yang seharusnya berlangsung hingga 2028.
Selama memimpin BI, Perry menghadapi berbagai tantangan ekonomi, mulai dari tekanan akibat pandemi Covid-19 hingga gejolak ekonomi global. Di bawah kepemimpinannya, Bank Indonesia juga mendorong percepatan transformasi sistem pembayaran nasional melalui pengembanga layanan digital seperti Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan BI-FAST, sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan digital di Indonesia.
Selain menjalankan tugas sebagai bankir sentral, Perry juga aktif di dunia akademik. Ia menghasilkan sejumlah buku dan publikasi ilmiah yang membahas kebijakan moneter, ekonomi makro, hingga pengembangan ekonomi digital. Karya-karyanya kerap menjadi rujukan bagi kalangan akademisi maupun praktisi ekonomi.
Pengunduran dirinya menandai berakhirnya pengabdian lebih dari empat dekade di Bank Indonesia. Selama perjalanan karier tersebut, Perry dikenal sebagai salah satu figur yang berperan dalam perumusan berbagai kebijakan moneter nasional, sekaligus mengawal transformasi sistem pembayaran Indonesia di tengah perubahan lanskap ekonomi global.
(Mayang Triastiti Artamefia)