Jeritan Peternak Kulon Progo: Harga Telur Anjlok Bebas, Dihantam Banjir Pasokan dan Modal Raksasa

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:01 WIB
PANEN: Salah satu peternak asal Kalurahan Banyuroto mengambil telur dari kandang. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
PANEN: Salah satu peternak asal Kalurahan Banyuroto mengambil telur dari kandang. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

KULON PROGO — Harapan tinggi yang sempat membuncah di dada para peternak ayam petelur di Kulon Progo kini perlahan meredup. Kebijakan Harga Acuan Peternak (HAP) yang digulirkan Kementerian Pertanian RI sebagai jaring pengaman nyatanya tak mampu menahan kejatuhan harga telur di tingkat tapak. Di lapangan, realitas pahit harus ditelan bulat-bulat: harga telur terus terjun bebas, kalah telak oleh cengkeraman mekanisme pasar yang didominasi para pemain bermodal raksasa.

Sukamto, seorang peternak asal Lendah, tak sanggup menyembunyikan nada getir saat menceritakan kondisi usahanya. Saat ini, harga telur dari tingkat peternak hanya berkisar antara Rp19.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Angka ini amat jauh panggang dari api jika dibandingkan dengan standar HAP yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.

Senyum sumringah para peternak ketika kebijakan HAP resmi berlaku pada 15 Juli 2026 lalu rupanya hanya bertahan seumur jagung. Kebahagiaan itu menguap begitu cepat, meninggalkan kenyataan pahit yang terus berulang.

"Sempat naik menjadi Rp23 ribu per kilogram, tapi hanya sehari," ujar Sukamto meratapi nasibnya, Selasa (11/8).

Baca Juga: Menatap Riak Penolakan Kadispar DIY: Ketika Suara Warga Bentrok dengan Aturan Birokrasi

Setelah lonjakan singkat tersebut, harga telur kembali terperosok ke kubangan Rp20.000 dan terus bertahan hingga memasuki pertengahan Agustus 2026. Bagi peternak kecil seperti Sukamto, menjual telur sesuai acuan HAP adalah hal yang mustahil. Jika bersikeras menetapkan harga sesuai regulasi pemerintah, dagangan mereka dipastikan bakal membusuk karena ditolak oleh pasar dan pedagang pengumpul.

Tekanan berat yang dihimpitkan ke pundak peternak mikro di DIY tak berhenti di situ. Jejaring antarpeternak mengendus kabar bahwa pasar di Pulau Jawa kini tengah dibanjiri pasokan telur dalam skala masif yang didatangkan dari Pulau Sumatera. Para peternak luar daerah tersebut disokong oleh modal finansial yang kuat serta hamparan lahan budidaya yang sangat luas. Ketahanan modal membuat mereka tetap sanggup bertahan meski harga meluncur deras.

Kondisi bertolak belakang justru dialami peternak lokal Kulon Progo yang mayoritas berskala mikro. Mereka harus menghadapi dua pukulan mematikan sekaligus: harga jual yang ambrol dan tingginya biaya pakan akibat pembatasan kuota impor oleh pemerintah.

Fenomena memilukan ini dibenarkan oleh Kepala Bidang Produksi dan Pengembangan Usaha Peternakan Dispertapa Kulon Progo, Bambang Dwi. Ia mengakui bahwa harga telur di Bumi Binangun memang berada jauh di bawah ketetapan HAP karena hukum pasokan dan permintaan pasar yang memegang kendali penuh.

Baca Juga: Kolaborasi Agnez Mo dan Anggun, Buktikan Kualitas Tanpa Batas di Panggung Global 

"Peternak pasti mengikuti harga pasar, kalau mengikuti HAP pasti tidak laku," ungkap Bambang.

Akibat daya serap lokal yang amat minim sementara produksi terus melimpah, sebagian besar peternak Kulon Progo terpaksa melempar hasil panennya ke luar daerah dengan harga murah.

Himpitan ekonomi yang makin menjerat inilah yang akhirnya memicu para peternak ayam petelur turun ke jalan, menggelar aksi damai di kawasan Malioboro pada Senin (10/8) lalu demi menyuarakan keputusasaan mereka. (gas) 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Peternak Telur Kulon Progo Harga Telur Anjlok Harga Acuan Peternak Dispertapa Kulon Progo Berita Kulon Progo Hari Ini