Sinewara, Bioskop Milik BUMN dari PFN Ditargetkan Hadir pada 2027

Regina Renate Yosuana • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:11 WIB
ilustrasi Sinewara (AI)
ilustrasi Sinewara (AI)

PT Produksi Film Negara (PFN) tengah menyiapkan jaringan bioskop milik negara yang diberi nama Sinewara. Proyek tersebut ditargetkan mulai hadir pada 2027 dan saat ini masih dalam tahap pematangan konsep.

Direktur Utama PFN Riefan Fajarsyah atau yang dikenal sebagai Ifan Seventeen mengatakan, pihaknya ingin memastikan konsep dan model operasional Sinewara benar-benar siap sebelum diperkenalkan kepada masyarakat.

Sinewara nantinya dirancang sebagai proyek percontohan yang memiliki peluang untuk dikembangkan ke sejumlah daerah. Untuk tahap awal, lokasi yang disiapkan berada di kawasan kantor PFN di Otista, Jakarta Timur.

PFN juga telah berkomunikasi dengan beberapa pemerintah daerah untuk menjajaki kemungkinan pengembangan jaringan bioskop tersebut di wilayah masing-masing.

PFN Soroti Ketimpangan Persebaran Bioskop

Baca Juga: Mengapa Film Horor Disukai? Ini Alasan di Balik Sensasi Takut yang Bikin Nagih

Rencana pendirian Sinewara tidak hanya berorientasi pada bisnis hiburan. PFN sebelumnya menyampaikan bahwa salah satu alasan pengembangan bioskop milik negara adalah masih belum meratanya akses terhadap layar bioskop di Indonesia.

Data yang dipaparkan PFN mencatat terdapat sekitar 505 lokasi bioskop dengan 2.401 layar. Namun, persebarannya masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Kondisi tersebut membuat masyarakat di sejumlah daerah masih memiliki akses yang terbatas terhadap bioskop. Kehadiran jaringan baru diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperluas distribusi layar sekaligus membuka akses tontonan yang lebih merata.

Dengan demikian, Sinewara tidak harus berhadapan langsung dengan jaringan bioskop komersial yang sudah memiliki banyak cabang. Konsep yang berbeda justru dapat menjadi keunggulan tersendiri bagi bioskop milik PFN.

Harga Tiket Sinewara Jadi Perhatian

Meski belum resmi beroperasi, rencana Sinewara sudah memunculkan berbagai respons dari masyarakat. Salah satu persoalan yang paling banyak menjadi perhatian adalah harga tiket.

Publik mempertanyakan apakah bioskop BUMN tersebut nantinya menawarkan harga yang lebih terjangkau dibandingkan jaringan bioskop komersial.

Namun, hingga kini PFN belum mengumumkan tarif resmi tiket Sinewara. Berbagai angka yang beredar di masyarakat masih sebatas ekspektasi dan spekulasi.

Selain harga tiket, masyarakat juga menyoroti potensi persaingan antara Sinewara dengan operator bioskop swasta yang telah lebih dahulu membangun jaringan di berbagai kota.

Kehadiran perusahaan negara di sektor bioskop menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana posisi Sinewara dalam industri tersebut. Meski demikian, anggapan bahwa Sinewara akan menciptakan monopoli belum dapat disimpulkan karena proyek tersebut masih dalam tahap pengembangan.

Berpeluang Jadi Ruang bagi Film Independen

Di sisi lain, Sinewara dinilai memiliki peluang untuk mengambil segmen yang belum terlalu banyak digarap oleh jaringan bioskop besar.

Baca Juga: Menyulap Alam Menjadi Ruang Fantasi: Keajaiban Cahaya di Lightscape Melbourne

Pengamat BUMN Toto Pranoto menyarankan agar PFN tidak sekadar berusaha merebut pasar yang sudah dikuasai operator besar. Sinewara justru dapat mencari ceruk pasar yang lebih spesifik, termasuk memberikan ruang lebih luas bagi film independen.

Konsep tersebut berpotensi menjadikan bioskop BUMN bukan hanya tempat pemutaran film komersial. Sinewara juga dapat menjadi ruang bagi sineas lokal dan film alternatif untuk menjangkau penonton yang lebih luas.

Jika strategi tersebut diterapkan secara konsisten, keberadaan Sinewara bisa memberikan kontribusi terhadap perkembangan ekosistem perfilman nasional.

Menunggu Konsep dan Model Bisnis

Keberhasilan Sinewara nantinya akan sangat bergantung pada sejumlah faktor. Harga tiket, kualitas pelayanan, pilihan film, lokasi, jumlah layar, hingga model bisnis akan menentukan daya saing jaringan bioskop tersebut.

PFN juga perlu memastikan ekspansi ke daerah tidak hanya mempertimbangkan potensi komersial, tetapi sekaligus menjawab persoalan ketimpangan akses terhadap bioskop.

Target peluncuran pada 2027 masih menjadi bagian dari rencana yang tengah dipersiapkan. Masyarakat masih harus menunggu informasi lebih lanjut mengenai lokasi, jumlah layar, harga tiket, serta mekanisme operasional Sinewara.

Jika dikelola secara profesional, transparan, dan mampu menawarkan konsep yang berbeda, Sinewara berpotensi menjadi pemain baru yang memperkaya industri perfilman Indonesia, bukan sekadar menjadi pesaing bagi jaringan bioskop yang sudah ada.

 

Editor : Bahana.
Sinewara Bioskop BUMN PFN bioskop indonesia perfilman indonesia