Sempat Tertekan, Rupiah Berbalik Menguat Tembus 17.695  per Dolar AS Hari Ini

Perawati • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 11:35 WIB
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS kembali melemah (Foto: Magnific) 
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS kembali melemah (Foto: Magnific) 

Nilai tukar rupiah berhasil menguat dalam perdagangan awal pekan pada Kamis (3/9). Kendati sempat dibuka tertekan di kisaran Rp17.750/US$, namun rupiah berhasil berbalik arah dan melaju menguat mendekati level Rp17.695/US$ hingga Rp 17.705/US$ menjelang siang hari.

Pergerakan ini melanjutkan sinyal positif yang sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan pagi, saat rupiah sempat dibuka di level Rp17.728/US$. Performa tersebut sekaligus menempatkan indonesia sebagai salah satu mata uang dengan apresiasi terkuat di kawasan asia.

Arah positif mata uang ini juga sejalan dengan tren mayoritas mata uang di kawasan regional yang kompak bergerak di zona hijau terhadap greenback.

Menyusul penguatan rupiah, yen Jepang turut terapresiasi sebesar 0,25 persen, diikuti bath Thailand yang menguat 0,18 persen, serta ringgit Malaysia yang naik 0,17 persen.

Baca Juga: Hearts2Hearts hadiri konferensi ADLOMICO ke-33 di Seoul

Pemicu penguatan mata uang regional tidak lepas dari perkembangan indeks dolar AS (DXY) yang terpantau melemah 0,6 persen ke level 99,537.

Penurunan indeks dolar tersebut memberi kelonggaran bagi mata uanf negara-negara berkembang untuk bernapas.

Secara umum , dinamika pasar uang global belakangan ini tersul membayangi pergerakan valuta asing. Sebelum mengalami perbaikan tipis hari ini , dolar sempat menyentu posisi tertinggi dalam dua pekan terakhir akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi tersebut sempat meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap ancaman inflasi global, yang pada akhirnya mendorong pelaku pasar berburu dolar AS sebagai aset aman.

Di sisilain, ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) yang diperkirakan masih mempertahankan suku bunga tinggi.  Meski demikian, tekanan fiskal serta tingginya beban utang di Amerika Serikat mulai menahan laju dolar AS lebih lanjut.

Kondisi ekonomi global yang bertahan pada fase suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama atau higher for longer ini menuntut kewaspadaan tinggi, khususnya dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, dan memperkuat ketahanan sistem keuangan nasional.

Editor : Bahana.
Dolar AS DXY nilai tukar rupiah Ekonomi Indonesia rupiah