Imbas Serangan Iran, Harga Minyak Dunia Meroket Hingga 4 Persen

Perawati • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 15:29 WIB
Ilustrasi minyak mentah dunia
Ilustrasi minyak mentah dunia

Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada penutupan perdagangan Kamis (8/10/2026) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ancaman cuaca buruk di Amerika Serikat. 

Lonjakan harga dipicu oleh meningkatnya serangan Iran terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz serta ancaman Badai Isaias yang memaksa penghentian sebagian fasilitas produksi minyak lepas pantai di Teluk Meksiko.

Mengutip CNBC, Jumat (9/10/2026), harga minyak Brent naik 4%, dan ditutup di US$ 104,28 per barel. Harga minyak WTI melompat 3,6% dan menetap di US$ 91,49 per barel.

Ancaman terhadap jalur distribusi energi global kian nyata setelah sedikitnya sembilan kapal tanker diserang di dalam dan sekitar kawasan Selat Hormuz sepanjang sepekan terakhir.

Baca Juga: Shell Alihkan Pengelolaan SPBU ke Isla Energy, Bagaimana Nasib Kualitas BBM?

Eskalasi ini mengganggu pemulihan arus pasokan minyak mentah dunia, mengingat jalur terusan vital tersebut dilintasi sekitar 20 persen total pasokan minyak dan gas alam cair dunia setiap harinya. 

Data Kpler mencatat arus minyak yang melewati Selat Hormuz pekan ini berada di kisaran 9,5 juta barel per hari selama sepekan yang berakhir pada selasa. Merosot hingga 30 persen jika dibandingkan dengan tingkat normal sebelum perang Iran.

Di sisi lain, hambatan pasokan juga datang dari wilayah Barat akibat pergerakan Badai Isaias yang menerjang kawasan Teluk Meksiko.

Perusahaan-perusahaan minyak telah menghentikan produksi lepas pantai sekitar 500 ribu barel per hari atau setara 25 persen dari total kapasitas produksi di wilayah tersebut demi keselamatan operasional. 

Situasi kian dipergenting oleh beruntunnya serangan rudal balistik militan Houthi ke sejumlah kota di Arab Saudi yang memakan korban jiwa dan luka-luka.

Analis pasar komoditas dari TD Securities Ryan McKay menilai bahwa meskipun sebagian arus pelayaran di Timur Tengah berupaya bertahan dengan pengawalan militer, hambatan logistik dan kenaikan biaya operasional secara otomatis menciptakan premi risiko tinggi pada penetapan harga minyak dunia.

Baca Juga: Laut Bercerita Melangkah ke Karpet Merah Busan, Film Adaptasi Novel Leila S Chudori Segera Tayang

Kendati sempat sedikit mereda setelah munculnya pernyataan dari pemerintah AS terkait kebijakan militer menjelang pemilu, ketidakpastian keamanan di jalur pelayaran utama diperkirakan bakal terus menahan posisi harga minyak pada level tinggi dalam waktu dekat.

Editor : Bahana.
minyak dunia minyak dunia naik Harga minyak dunia selat hormuz