BATAM - Pesatnya pertumbuhan industri pusat data (data center) di Pulau Batam kini semakin mendorong peningkatan kebutuhan terhadap pasokan air bersih skala besar secara mandiri dan efisien.
Untuk menjawab tantangan infrastruktur dasar tersebut, fasilitas pengolahan air laut menjadi air bersih atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) resmi mulai dibangun di Kawasan Industri Kabil.
Acara peletakan batu pertama proyek infrastruktur strategis ini digelar pada Kamis, 5 November 2026, guna memastikan kesiapan Batam menampung ekspansi investasi teknologi digital dunia.
Proyek besar yang digarap oleh Citramas Group ini menelan nilai investasi yang terbilang fantastis, yakni mencapai angka USD 32,8 juta atau setara dengan Rp600 miliar.
Proses pembangunan fasilitas penyulingan ini dilakukan secara bertahap, diawali dengan target kapasitas awal sebesar 300 liter per detik (LPS) yang diproyeksikan mulai beroperasi pada 2027.
Selanjutnya, pengembang akan menambah kapasitas produksi air bersih sebesar 400 LPS pada tahap kedua, sehingga total daya pasoknya mencapai 700 LPS pada 2030 mendatang.
Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, menyambut baik terobosan penyediaan air mandiri ini untuk menjamin keberlangsungan operasional industri pusat data yang tengah berkembang pesat.
Ia menyampaikan bahwa jaminan pasokan air bersih merupakan salah satu poin penting dalam perjanjian kerja sama yang disepakati bersama para investor skala internasional.
Kehadiran fasilitas pengolahan air laut mandiri ini diyakini mampu membuat operasional pusat data di Kabil dan Nongsa berjalan lebih optimal tanpa bergantung penuh pada jaringan umum.
Direktur Utama PT Kabil Citranusa, Peters Vincen, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi proyek didasarkan pada posisi yang sangat strategis serta aksesibilitasnya yang dekat dengan pesisir laut.
Area pembangunan SWRO ini berjarak sekitar satu kilometer saja dari pantai, sehingga mempermudah pengambilan air laut baku secara langsung untuk diproses menjadi air bersih.
Selain fasilitas penyulingan, proyek ini dilengkapi jaringan pipa transmisi sepanjang 12 kilometer yang difungsikan untuk mendistribusikan air bersih secara efektif dari Kabil menuju kawasan Nongsa.
Keberadaan jaringan transmisi ini sangat krusial mengingat Nongsa Digital Park telah berkembang menjadi lokasi sentral berkumpulnya berbagai proyek pusat data mancanegara di Indonesia.
Saat ini, terdapat tiga pusat data yang telah beroperasi penuh, satu pusat data dalam tahap pengujian (commissioning), serta dua proyek lain masih dalam tahap pematangan lahan.
CEO Citramas Group, Michael Wiluan, mengungkapkan bahwa masifnya pertumbuhan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam beberapa tahun terakhir telah memicu lonjakan kebutuhan fasilitas pusat data.
Perkembangan pesat tersebut menempatkan Batam pada posisi yang sangat strategis dalam persaingan industri digital, khususnya di kawasan regional Asia Tenggara dan sekitarnya.
Demi mendukung ekosistem digital terpadu, penyediaan air bersih ini juga diselaraskan dengan keandalan pasokan listrik dari PLN Batam serta ketersediaan serat optik kabel laut.
Citramas Group sendiri sebenarnya telah mengelola sistem air mandiri sejak 1992 lewat embung seluas empat hektare di Kabil berkapasitas 5.200 meter kubik per hari atau 60,2 LPS.
Kemampuan produksi air bersih kawasan ini bakal terus digenjot hingga mencapai 10.000 meter kubik per hari atau 115,74 LPS pada awal 2027 melalui embung baru dan daur ulang.
Keterlibatan aktif sektor swasta dalam pembangunan infrastruktur dasar ini dinilai sangat membantu percepatan investasi, seiring pertumbuhan ekonomi Batam yang menembus 7,28 persen pada semester I-2026.
Kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah dan pelaku usaha ini diharapkan dapat terus memperkuat daya saing Batam sebagai pusat pertumbuhan ekonomi digita l unggulan nasional.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Berbagai Sumber