RADAR MALIOBORO – Film layar lebar yang berjudul Vina " sebelum tujuh hari " kini mendapatkan cuitan - cuitan dari netizen hingga sutradara - sutradara kondang di tanah air.
Karena menimbulkan unsur adanya pro dan kontra, dari beberapa netizen ada yang menyetujui dengan rilisnya film tersebut karena telah mengandung unsur positif di dalamnya.
Tetapi ada juga yang tidak setuju dengan film ini karena sebagian ada yang menganggap bahwa dari cerita film tersebut tidak pantas untuk di tayangkan di karenakan dari segi poster film yang sudah beredar.
Ernest Prakasa salah satu sutradara dan producer kondang ikut berkomentar mengenai film ini mempunyai adanya pro dan kontra yang telah menyinggung adanya soal etika dalam dunia seni, isi dari permasalahan pro dan kontra terhadap film ini tidak semua orang mempunyai kesukaan yang sama.
Menurut dia, pastinya semua orang mempunyai hak untuk tidak menyukai film tersebut dan tidak adanya paksaan dari siapapun itu.
Anggy Umbara selaku sutradara dari epicsentrum menegaskan "Kita ini hidup di negara yang majemuk, artinya setiap manusia pastinya mempunyai hak yang berbeda mulai dari pemikiran, perasaan, atau moralitas terhadap diri kita sendiri tentu jelas berbeda. Akan tetapi dari sisi lain, kita mempunyai niat dan tujuan yang baik dan bermanfaat untuk manusia yang membutuhkannya," ujarnya.
Dari adanya permasalahan tersebut, pihak dari production housse tersebut telah menghargai seseorang yang memilih kontra atas film Vina " sebelum tujuh hari ", sebagai sutradara Anggy Umbara telah menaruh harapan besar kepada publik dari setengahnya yang berpihak ke kontra dapat menjaga dan menghargai hasil dari karya - karyanya dan tidak adanya komentar yang negative dalam film tersebut.
Dheeraj Kalwani selaku producer dari film Vina " sebelum tujuh hari " ikut menjelaskan kepada publik bahwa netizen mempermasalahakan film ini hanya karena posternya saja, bukan dari cerita maupun dari segi pengambilan gambar.
Netizen menyebutnya poster terhadap film ini tidak layak untuk di gunakan dalam menarik penonton atau mempromosikan film tersebut. Dirinya juga menegaskan kepada publik bahwa " saran dari saya kalian tonton dulu film hasil dari karya kita setelah itu bebas untuk berkomentar apapun itu pada film ini, lagian ini juga film bukan sembarang film, film ini justru di angkat dari kisah nyata yang mana ada seorang gadis berusia 16 tahun bernama Vina telah menjadi korban kekerasan seksual terhadap geng motor dari sang kekasihnya. Coba deh di tonton terlebih dahulu, di pahami, dan di resapi, jangan asal berkomentar," tuturnya.
Tak hanya itu, sutradara kondang juga menyinggung adanya integritas di dalam dunia seniman yang ada di Indonesia, dapat di katakan oleh dirinya bahwa hal ini tidak dapat di samakan karena ini sangat bergantung pada proses etika dari setiap macam - macam seorang seniman pribadi.