JOGJA - Film horor-misteri terbaru berjudul Tebusan Dosa karya sutradara Yosep Anggi Noen siap menggebrak industri perfilman Indonesia dengan menawarkan perspektif baru dalam genre horor.
Sementara bagi Happy Salma yang memerankan Wening, cerita Tebusan Dosa sangat riil, di mana tokoh utama perempuan yang mengalami hal berat kecelakaan dan kehilangan anak dan ibunya. Di film ini Happy merasakan kisah yang seram, sehingga tak butuh sugesti tertentu untuk berperan.
"Kisahnya sendiri sudah seram, biasanya kita bangun dengan artistik atau cerita yang dibangun sebagai sugesti. Di film ini ceritanya sudah buat seram, peristiwa dan teks secara alami membangun rasa takut saya. Ini mengapa terasa sangat relate dan harapannya sampai ke penonton," tandas Happy.
Sementara bagi Putri Marino yang memerankan Tirta, seorang podcaster misteri, Tebusan Dosa menjadi film horor perdananya yang langsung membawa tantangan besar. Ia merasa cerita yang dibangun sangat berelasi dengan kehidupan sehari-hari yang membuat juatru sangat menakutkan.
"Kami berusaha keluar dari stereotipe horor yang gitu lagi gitu lagi. Harus ada kemungkinan lain, membicarakan rasa takut, bahwa ada hantunya, iya. Tapi ini di situasi sehari-hari yang dihadapi," kata Putri.
Yosep Anggi Noen, sutradara film Tebusan Dosa yang akan tayang di bioskop mulai 17 Oktober 2024 berusaha melintasi batas film horor di Indonesia. Tak memilih cerita tentang suatu hal yang mengerikan karena kekuatan tertentu, atau misteri sebuah tempat wingit yang memang selalu menyeramkan.
Ia memilih menampilkan ketakutan terbesar manusia yakni kehilangan. Ia menjahit cerita tentang Wening yang diperankan Happy Salma, seorang perempuan yang kehilangan anak dan ibunda saat kecelakaan kendaraan.
Ibundanya meninggal sementara sang anak hilang di lokasi kejadian, sebuah jembatan dengan sungai mengalir di bawahnya. Wening percaya anaknya yang bernama Nirmala masih hidup, namun kemudian justru fakta masa lalu berbuah ketakutan-ketakutan muncul padanya.
Latar film yang berada di kota satelit sub urban, menambah relasi antara situasi yang terjadi dengan kenyataan di kehidupan. Bahwa ketakutan bukan lagi dari keris atau benda pusaka, namun bisa datang dari ring light, atau alat kosmetik untuk mencari pundi di era kini.
"Pertama tak ada pocong di film ini, tapi hantu yang sehari-hari. Ketakutan terbesar adalah kehilangan orang dekat dengan kita. Kalau dia hadir lagi, kamu akan takut atau senang. Ini yang kami tumbuhkan, sebagai bagian dari eksplorasi horor terdekat dengan manusia," ungkap Anggi pada wartawan di Cineapolis Lippo Mall Yogya, Senin (14/10/2024).
Film yang akan tayang perdana 17 Oktober 2024 ini menampilkan pendekatan unik dengan kisah horor di lingkungan sub-urban, menggeser paradigma umum film hantu Indonesia yang kerap berlatar tempat terpencil atau rumah angker.
Dibintangi Happy Salma sebagai Wening dan Putri Marino sebagai Tirta, Tebusan Dosa menceritakan kisah seorang ibu yang berjuang mencari anaknya, Nirmala, yang hilang setelah mengalami kecelakaan di sebuah sungai.
Berlatar di kota fiktif bernama Majakunan, film ini mengeksplorasi tema-tema universal seperti rasa bersalah, harapan dan resiliensi manusia dalam menghadapi tragedi.
Film ini menggabungkan elemen horor dan misteri dengan plot twist yang mengejutkan, serta mengeksplorasi tema rasa bersalah dan penebusan dosa dalam keluarga. Sinematografi film, termasuk penggunaan teknik color grading dan adegan di dalam air, menambah suasana mistis dan visual yang memikat.
Happy Salma yang memerankan Wening menambahkan, film ini bukan sekadar cerita horor. Ada drama, misteri, dan lapisan emosi yang sangat dalam. Bahkan banyak penonton yang mengatakan film ini terasa sangat nyata.
Pemilihan lokasi syuting di Magelang Jawa Tengah juga menjadi nilai plus. Kota itu dipilih karena karakteristiknya yang unik, dengan pertemuan sungai yang menciptakan suasana mistis namun indah.
"Rasanya cocok sekali film ini memang harus di sana. Sungainya punya campuran antara keseraman dan sesuatu yang subtil," ungkap Happy Salma. []
Editor : Iwa Ikhwanudin