RADAR MALIOBORO - Kontroversi film animasi Merah Putih One for All terus bergulir. Kali ini, salah satu pengisi suara (dubber) dalam film tersebut, Billy Valentino, memberikan klarifikasi melalui unggahan video yang sudah ramai beredar di media sosial.
Billy mengaku terkejut saat namanya ikut terseret dalam pemberitaan dan perbincangan warganet. Ia mengatakan bahwa banyak orang, termasuk teman dekatnya ikut memmpertanyakan keterlibatannya dalam proyek yang disebut-sebut menggunakan dana sebesar Rp 6,7 miliar tersebut.
Menurut Billy, ia sama sekali tidak mengetahui detail proyek maupun sumber pendanaannya. “Kita tuh gak tau menau guys tentang kasus 6,7 miliar ini tuh larinya kemana. Karena kita cuma kayak dikasih job sebagai voice actor. Jadi kita cuma ngisi suara tersebut dan dibayar per jam.” ujar Billy dalam unggahannya (14/8).
Ia juga tidak menyangka bahwa film tersebut akan tayang di bioskop. Ia hanya mengira bahwa film tersebut akan tayang di stasiun TV kecil dengan jangkauan penonton yang minim. “Aku juga mikirnya kayak ini bakalan ditampilin di stasiun TV, stasiun TV-nya mungkin stasiun-stasiun TV yang nggak terkenal gitu” tambahnya.
Ia juga mengungkap kekecewaannya ketika melihat kualitas animasi yang dinilai buruk oleh publik, serta fakta bahwa namanya tercantum sebagai character designer, padahal ia hanya bertugas sebagai pengisi suara. “Nama gue jadi ikut jelek. Kalau yang diserang orang-orang yang bikin atau punya ide proyeknya, ya nggak apa-apa. Tapi kami yang nggak tahu apa-apa ikut dihujat,” tegasnya.
Billy menambahkan bahwa ia tidak menyangka film tersebut akan menjadi sorotan besar, apalagi terkait dugaan penyalahgunaan anggaran. Ia berharap publik memahami bahwa para pengisi suara tidak memiliki wewenang maupun pengetahuan terkait proses kreatif dan pendanaan film.
Publik sendiri ramai menanggapi klarifikasi ini. Sebagian menyatakan empati, menyebut Billy dan dubber lain hanya pekerja yang menjalankan tugas. Namun, ada pula yang tetap menyayangkan keterlibatan mereka tanpa melakukan riset terlebih dahulu.
(Athifah Dihyan Calysta)
Editor : Iwa Ikhwanudin