RADAR MALIOBORO – Pearl (2022) merupakan film horor psikologis yang dibintangi dan ditulis oleh Mia Goth, serta disutradarai oleh Ti West. Film ini menceritakan tentang kehidupan seorang gadis pada awal abad ke-20 di sebuah peternakan milik keluarganya.
Pearl memiliki impian untuk menjadi seorang bintang, namun hal ini sangat bertolak belakang dengan kehidupannya yang hanya berputar di kegiatan-kegiatan domestik. Selain itu, menjadi seorang bintang juga merupakan hal yang dianggap mustahil bagi perempuan pedesaan pada masanya.
Pearl hidup bersama kedua orangtuanya. Ibunya merupakan seorang pekerja keras dan menjadi figur otoriter yang selalu menekan mimpi-mimpi Pearl. Sementara sang ayah menderita stroke sehingga Pearl dan ibunya harus merawatnya setiap hari. Beban domestik itulah yang menahan Pearl dari kebebasan yang ia impikan.
Ibu Pearl merupakan orang yang sangat menentang impian Pearl untuk menjadi seorang artis. Bahkan, ia selalu marah dan melarang Pearl mengekspresikan hal-hal yang ia sukai, seperti menari, bernyanyi, atau menggunakan baju-baju glamor. Ibu Pearl meyakini bahwa tugas perempuan hanyalah menjadi anak yang baik dan calon istri yang patuh.
Dalam diri Pearl, kita bisa melihat cerminan perempuan yang dipaksa mengubur mimpinya demi memenuhi ekspektasi sosial. Ibu Pearl merupakan representasi dari masyarakat yang menolak memberi ruang bagi perempuan untuk memiliki cita-cita.
Konflik memuncak ketika ibunya melarang Pearl mengikuti audisi. Pertengkaran hebat mereka berakhir dengan Pearl yang tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia pun membunuh ibunya. Adegan ini menjadi simbol “female rage” yang selama ini ditahan perempuan akibat tekanan domestik dan sosial.
Di tengah kekacauan batinnya, Pearl bertemu dan menjalin hubungan dengan seorang operator bioskop yang menjanjikannya kesempatan untuk kabur dari dunia peternakan. Namun, pada akhirnya pria itu mengingkari janji dan hendak pergi meninggalkan Pearl.
Pearl pun kembali murka dan membunuh lelaki itu. Adegan ini menggambarkan pria yang awalnya Pearl kira sebagai jalan keluar, seseorang yang melihat potensi dan sisi lain dalam dirinya, ternyata pada akhirnya juga memperlakukan Pearl seperti benda sekali pakai. Sosok operator proyektor ini seolah memvalidasi kemarahan Pearl terhadap dunia yang lagi-lagi mengecewakannya.
Pearl memiliki seorang sahabat bernama Mitsy. Ia adalah seorang gadis yang sangat berkebalikan dengan Pearl. Keluarga Mitsy juga sangat mendukungnya untuk menjadi seorang artis, impian yang sama dengan yang dimiliki Pearl.
Saat hari audisi tiba, walaupun Pearl memperlihatkan pertunjukan yang memukau, para juri menolaknya dengan alasan ia “terlalu tua” dan visualnya yang kurang menunjukkan penampilan khas gadis Amerika pada umumnya yang berambut pirang dan bermata biru.
Sebaliknya, Mitsy justru yang berhasil memenangkan audisi. Mitsy dianggap sebagai sosok “ideal” oleh para juri. Ia merupakan simbol dari standar kecantikan yang tak pernah bisa dijangkau oleh Pearl.
Rasa iri pun membutakan Pearl. Ia tidak sanggup benar-benar merasa bahagia atas keberhasilan sahabatnya. Kekecewaan karena mimpinya yang hancur berubah menjadi amarah, hingga akhirnya ia menghabisi nyawa satu-satunya orang yang selama ini dekat dengannya.
Dunia seolah terus memberitahu Pearl bahwa dirinya tidak istimewa, dan takdir satu-satunya adalah untuk terus hidup di peternakan serta terpenjara dalam lingkungan domestik. Kemarahan yang Pearl salurkan melalui sisi psikopatnya menunjukkan bagaimana norma patriarki dan tekanan sosial membentuk sekaligus menekan dirinya.
Aksi kekerasan yang ia lakukan merepresentasikan keputusasaan Pearl untuk merebut kembali kendali atas dirinya sendiri yang telah direbut oleh dunia yang terus mengatur dan mengekangnya.
Di akhir film, terdapat adegan yang cukup membuat merinding, di mana Pearl duduk di meja makan dengan gaun rapi, ditemani mayat kedua orang tuanya dan makanan yang membusuk. Pearl terlihat memberikan senyum kaku. Adegan ini menggambarkan bagaimana perempuan sering dituntut untuk menyembunyikan perasaan mereka di balik topeng femininitas yang diharapkan dimiliki oleh setiap perempuan.
Secara keseluruhan, Pearl menampilkan bagaimana perempuan sering ditekan untuk tunduk pada domestikasi. Namun, film ini mengemas isu tersebut melalui horor psikologis yang intens dan berdarah-darah. Karakter Pearl sendiri merupakan tokoh yang rumit namun sempurna sebagai representasi dari “female rage” yang merupakan hasil dari tekanan dan penindasan perempuan.
Akting Mia Goth juga luar biasa dalam memperlihatkan spektrum emosi Pearl yang kompleks, dari kepolosan hingga kegilaan sebagai seorang pembunuh.
Bagi Anda yang mencari tontonan Halloween dengan makna yang mendalam, Pearl layak untuk masuk daftar tontonan Anda!
(Maulina)
Editor : Iwa Ikhwanudin