RADAR MALIOBORO - Setelah debutnya yang sangat dinanti di Festival Film Cannes, film antologi karya penulis-sutradara Wes Anderson, The French Dispatch, kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu sineas dengan gaya visual paling khas di dunia.
Film ini bukan hanya sekadar tontonan, melainkan sebuah museum bergerak yang diisi dengan humor cerdas, detail artistik yang berlebihan, dan apresiasi mendalam terhadap dunia jurnalisme majalah era pertengahan abad ke-20.
The French Dispatch berfungsi sebagai edisi perpisahan dari majalah fiksi Amerika yang berbasis di kota Prancis fiksi, Ennui-sur-Blasé. Film ini dibagi menjadi tiga segmen utama, yang masing-masing merupakan adaptasi dari artikel yang diterbitkan dalam majalah tersebut, lengkap dengan prolog dan epilog:
1. Seni dan Kejahatan: Kisah tentang Moses Rosenthaler, seorang narapidana brilian yang menjadi seniman abstrak yang sensasional, yang kisahnya diceritakan oleh Tilda Swinton sebagai seorang dosen seni eksentrik.
2. Revolusi dan Remaja: Potret gerakan mahasiswa yang berapi-api, di mana jurnalis yang dingin (Frances McDormand) secara tidak terduga terlibat dalam kehidupan subjek liputannya, Zeffirelli (Timothée Chalamet).
3. Kuliner dan Penculikan: Kisah petualangan dramatis yang melibatkan masakan, penculikan, dan polisi, yang diceritakan oleh kritikus makanan karismatik, Roebuck Wright (Jeffrey Wright).
Setiap segmen memiliki nuansa, palet warna, dan ritme naratif yang unik, namun disatukan oleh kantor berita yang menjadi jantung cerita, dipimpin oleh editor yang pendiam namun tegas, Arthur Howitzer Jr. (Bill Murray).
Secara visual, The French Dispatch adalah perwujudan maksimalis dari estetika Wes Anderson. Film ini menonjol karena transisi yang sering dan disengaja antara warna penuh yang kaya dan sinematografi hitam-putih yang dramatis.
Penggunaan komposisi simetris yang obsesif, pemandangan yang terlihat seperti diorama, dan penyisipan animasi bergaya kartun Prancis klasik, semuanya berkontribusi pada perasaan bahwa penonton sedang menyaksikan sebuah buku komik yang menjadi hidup.
Seperti biasa, Anderson berhasil mengumpulkan ansambel aktor Hollywood yang luar biasa.
Dari bintang lama seperti Owen Wilson, Adrien Brody, dan Willem Dafoe hingga generasi baru seperti Timothée Chalamet, setiap aktor menerima porsi sorotan yang sempurna dalam durasi adegan mereka yang terbatas.
Keahlian mereka dalam menyampaikan dialog Anderson yang cepat dan datar (deadpan delivery) adalah salah satu kenikmatan utama dari film ini.
The French Dispatch mungkin menantang penonton dengan kecepatannya yang cepat dan strukturnya yang terfragmentasi.
Namun, bagi para penggemar Anderson dan pecinta sinema artistik, film ini adalah permata yang menawarkan tawa, kecerdasan, dan kekayaan visual yang tidak tertandingi.
Selain itu juga, film ini membuat kita sebagai penonton sadar bahwa film ini bukan hanya sekadar tontonan, melainkan sebuah museum bergerak yang diisi dengan humor cerdas, detail artistik yang berlebihan, dan apresiasi mendalam terhadap dunia jurnalisme majalah era pertengahan abad ke-20.
Penulis: Cut Nazwa Khiranjani