RADAR MALIOBORO - Di antara deretan mahakarya sutradara legendaris Stanley Kubrick, Barry Lyndon (1975) sering kali disebut sebagai yang paling indah secara visual.
Film drama sejarah yang diadaptasi dari novel William Makepeace Thackeray tahun 1844 ini bukan sekadar kisah kejatuhan seorang petualang, tetapi juga sebuah pernyataan sinematik tentang seni, sejarah, dan sinematografi.
Barry Lyndon mengisahkan perjalanan hidup Redmond Barry (diperankan oleh Ryan O'Neal), seorang pemuda Irlandia yang ambisius.
Dimulai dari kegagalan cinta dan duel, Barry terpaksa melarikan diri, bergabung dengan tentara, menjadi mata-mata, dan pada akhirnya berhasil masuk ke lingkaran aristokrasi Eropa abad ke-18 dengan menikahi Lady Lyndon, seorang janda kaya raya.
Film ini dibagi menjadi dua bagian besar—bagian pertama tentang kebangkitan Redmond Barry hingga mendapatkan gelar 'Barry Lyndon', dan bagian kedua yang menyoroti keangkuhan dan kejatuhannya yang tragis.
Seluruh narasi diceritakan oleh narator mahatahu yang dingin dan ironis, memperkuat tema tentang takdir dan kesia-siaan ambisi manusia.
Daya tarik utama dan warisan abadi Barry Lyndon terletak pada sinematografinya yang memukau, yang ditangani oleh John Alcott.
Kubrick bertekad untuk mereplikasi estetika lukisan-lukisan era Romantik abad ke-18, seperti karya Thomas Gainsborough dan William Hogarth. Saat dirilis pada tahun 1975, Barry Lyndon menerima respons yang beragam.
Banyak penonton dan kritikus pada awalnya merasa kecewa dengan tempo penceritaan yang lambat (stately pace) dan jarak emosional yang dingin. Film ini dianggap terlalu formal dan panjang (berdurasi lebih dari tiga jam).
Seiring berjalannya waktu, reputasi Barry Lyndon melonjak drastis. Film ini kini secara luas diakui sebagai salah satu film terhebat yang pernah dibuat.
Barry London dinominasikan untuk tujuh Oscar dan memenangkan empat di antaranya, termasuk Sinematografi Terbaik, Desain Kostum Terbaik, Tata Rias Terbaik, dan Musik Orisinal Terbaik (Leonard Rosenman).
Selain itu juga, terdapat fakta bahwa seorang Kritikus film legendaris Roger Ebert, yang awalnya memberi rating lebih rendah, kemudian menaikkannya menjadi empat bintang penuh dan memasukkan film ini ke dalam daftar "Great Movies"-nya.
Bahkan, sutradara sekelas Martin Scorsese dilaporkan menyebut Barry Lyndon sebagai salah satu film terbaik Kubrick.
Film karya Stanley Kubrick ini wajib ditonton bagi kalangan pecinta sinema. Banyak sekali adegan film yang bisa dipelajari, khususnya secara visual dalam film tersebut.
Di film ini juga kita sebagai penonton diajak untuk melihat film yang mengajarkan pelajaran abadi tentang obsesi sosial dan takdir. Bagi kalian yang belum pernah menonton film satu ini, jangan lupa ditonton ya!
Penulis: Cut Nazwa Khiranjani