RADAR MALIOBORO - Film horor Indonesia Kuyank akhirnya resmi diperkenalkan kepada publik melalui acara press release dalam Special Screening Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20.
Film ini kembali membuka kelanjutan cerita dalam universe Saranjana: Kota Gaib, yang pernah mencapai lebih dari 1,2 juta penonton di Indonesia.
Disutradarai oleh Johansyah Jumberan, Kuyank hadir sebagai film horor yang menawarkan konsep berbeda dari kebanyakan horor Indonesia.
Dengan skala produksi yang lebih besar, film ini menampilkan eksplorasi budaya Kalimantan, terutama legenda ikonik kuyang.
Di balik ketegangannya, film ini juga menyentuh dinamika sosial serta tekanan adat yang masih kuat melekat dalam kehidupan masyarakat Kalimantan, menjadikannya tidak hanya horor penuh teror, melainkan juga eksplorasi budaya yang kaya dan emosional yang kuat.
Proses syuting film Kuyank dilakukan sepenuhnya di berbagai daerah di Kalimantan, dengan penggunaan 50% Bahasa Banjar demi menghadirkan atmosfer yang autentik sekaligus memperkaya nilai budaya lokal.
Para pemain papan atas seperti Rio Dewanto, Putri Intan Kasela, Ochi Rosdiana, Barry Prima, dan Jolene Marie, bersama aktor-aktor lokal Kalimantan, memberikan kontribusi besar dalam menghidupkan karakter serta membangun emosional dalam film.
Secara visual, film Kuyank bekerja sama dengan LMN Studio, salah satu studio VFX terkenal Indonesia, yang sukses menyulap sosok kuyang menjadi lebih hidup, berkualitas tinggi, dan mencekam.
Menariknya, Film Kuyank menghadirkan drama keluarga dan konflik emosional yang kuat, lengkap dengan plot twist yang menambah kedalaman cerita tanpa mengurangi nuansa horornya.
Perpaduan horor, budaya, dan kualitas produksi yang meningkat, Kuyank menjadi salah satu film Indonesia paling dinantikan menjelang perilisan nasionalnya pada 29 Januari 2026. (Desfina Citra dan Zulaihatul Asfia)
Editor : Meitika Candra Lantiva