Disutradarai oleh Hayao Miyazaki, film ini bukan sekadar dongeng fantasi; ia adalah epos brutal berlatar Jepang era Muromachi yang menjadi pernyataan mendalam tentang industrialisasi, ekologi, dan perjuangan untuk hidup berdampingan.
Kisah dimulai dengan Ashitaka, pangeran terakhir dari suku Emishi, yang dikutuk setelah melawan dewa babi hutan yang telah dirasuki iblis.
Untuk mencari penawar kutukan yang fatal, Ashitaka melakukan perjalanan ke Barat dan terseret dalam konflik yang lebih besar.
Ia tiba di tengah pertempuran antara Kota Besi (Irontown) yang dipimpin oleh Lady Eboshi, dan para dewa hutan, yang diwakili oleh San, atau dikenal sebagai Princess Mononoke—seorang gadis manusia yang dibesarkan oleh dewa serigala, Moro.
Kota Besi adalah pusat peradaban manusia yang sedang berkembang, yang membutuhkan sumber daya besi dari hutan.
Tindakan Eboshi yang menebang hutan secara brutal untuk menambang besi telah membangkitkan kemarahan dewa-dewa alam, yang bersumpah untuk menghancurkan manusia.
Meskipun film Ghibli seringkali identik dengan kehangatan dan kelembutan, Princess Mononoke tidak takut menampilkan kekerasan.
Adegan pertempuran penuh darah dan konsekuensi mengerikan dari kutukan dan perang disajikan secara detail. Secara visual, film ini adalah pencapaian luar biasa.
• Alam yang Hidup: Miyazaki menghidupkan hutan dengan detail yang menakjubkan, penuh dengan roh-roh kecil yang menggemaskan, Kodama, hingga Dewa Hutan (Forest Spirit) yang misterius dan agung.
• Animasi Tangan Master: Kualitas gambar, yang sebagian besar dikerjakan dengan tangan, memberikan tekstur dan kedalaman yang jarang terlihat dalam animasi kontemporer, menjadikan setiap frame terasa seperti karya seni yang monumental.
Lebih dari sekadar kesuksesan komersial, film ini adalah salah satu karya paling berpengaruh di genre fantasi-ekologi.
Ia mengajarkan bahwa kerusakan lingkungan adalah hasil dari persaingan sumber daya dan keserakahan, dan bahwa jalan menuju perdamaian adalah dengan mengakui bahwa semua pihak (manusia dan alam) memiliki hak untuk hidup.
Ini adalah film epik yang menuntut penonton untuk merenung dan menerima bahwa dunia ini adalah "terkutuk, namun masih ada alasan untuk terus hidup."
Penulis: Cut Nazwa Khiranjani