RADAR MALIOBORO - Ragam tayangan televisi nasional dinilai semakin menyusut dalam beberapa tahun terakhir.
Program edukatif dan tayangan anak, termasuk kartun, kini kian jarang ditemukan di layar kaca.
Kondisi ini membuat televisi tidak lagi sepenuhnya ramah bagi anak-anak seperti pada masa sebelumnya, sehingga orang tua dituntut lebih waspada dalam mengawasi tontonan si kecil.
Pada era 1990-an hingga awal 2000-an, televisi menjadi salah satu sumber hiburan utama bagi anak-anak.
Berbagai tayangan kartun dan program edukatif rutin mengisi slot pagi hingga siang hari.
Selain berfungsi sebagai hiburan, program-program tersebut juga menjadi media pembelajaran informal yang menyampaikan nilai moral dan pengetahuan dasar, seperti serial Petualangan Si Unyil atau Pada Zaman Dahulu yang mendidik sambil menghibur.
Namun, kondisi tersebut perlahan berubah.
Baru-baru ini, perbincangan di media sosial X menyoroti kabar berakhirnya penayangan kartun Doraemon di salah satu stasiun televisi nasional pada awal tahun ini.
Kartun yang telah menemani penonton selama kurang lebih empat dekade itu dikenal sebagai salah satu tayangan anak paling ikonik dan menjadi bagian dari masa kecil banyak generasi.
Tidak lagi ditayangkannya Doraemon memicu nostalgia sekaligus kekecewaan publik, mengingat tayangan tersebut selama ini dinilai aman, menghibur, dan sarat nilai persahabatan.
Fenomena ini tidak hanya menandai hilangnya satu program populer, tetapi juga menjadi simbol menyempitnya ruang tayangan anak di televisi nasional.
Seiring waktu, pola siaran televisi pun mengalami pergeseran.
Saat ini, tayangan televisi cenderung didominasi sinetron, acara realitas, dan program hiburan dengan format serupa.
Minimnya variasi membuat tayangan tersebut dinilai kurang menarik bagi anak-anak dan tidak lagi sesuai dengan kebutuhan hiburan mereka, terutama di tengah maraknya konten pendek dari platform digital seperti YouTube Shorts.
Kondisi tersebut berdampak pada perubahan preferensi anak dalam mengonsumsi media. Banyak anak kini lebih memilih menggunakan gadget untuk bermain game atau mengakses beragam konten hiburan digital.
Televisi pun tidak lagi menjadi pilihan utama karena dianggap kurang menarik serta tidak menyediakan tayangan yang relevan dengan minat anak.
Di sisi lain, sejumlah sinetron yang mendominasi jam tayang televisi mengangkat tema dan adegan yang ditujukan untuk penonton dewasa.
Beberapa di antaranya menampilkan isu perselingkuhan, kekerasan, hingga dinamika hubungan orang dewasa yang dinilai tidak sesuai untuk dikonsumsi anak-anak.
Situasi ini semakin mempersempit ruang tayangan yang aman dan layak bagi penonton usia dini.
Dari sisi industri, isi tayangan televisi sangat dipengaruhi oleh persaingan rating dan kepentingan iklan.
Stasiun televisi cenderung menayangkan program yang mampu menarik penonton dalam jumlah besar karena dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi.
Program dengan rating tinggi lebih mudah memperoleh pengiklan sehingga ditayangkan lebih sering dan dalam durasi panjang.
Sebaliknya, tayangan anak dan program edukatif kerap dinilai kurang kompetitif secara komersial, sehingga perlahan tersisih dari jadwal siaran.
Hingga kini, belum terdapat kebijakan yang secara khusus mendorong stasiun televisi untuk menghadirkan tayangan ramah anak secara konsisten.
Akibatnya, penentuan isi siaran masih banyak dipengaruhi pertimbangan bisnis, sementara fungsi televisi sebagai media publik yang menyediakan tontonan aman dan mendidik bagi anak belum sepenuhnya terpenuhi.
Menyusutnya ragam tayangan televisi menjadi tantangan tersendiri bagi industri penyiaran nasional di tengah meningkatnya penggunaan media digital oleh anak-anak.
Ke depan, televisi diharapkan mampu kembali menghadirkan tayangan yang lebih beragam, menarik, serta sesuai bagi seluruh kelompok usia. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva