Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Menjelajahi Dunia Epik Drama Cina Kolosal: Ada Genre Xianxia, Wuxia, dan Xuanhuan

Magang Radar Malioboro • Kamis, 8 Januari 2026 - 13:26 WIB
Drama China.
Drama China.

RADAR MALIOBORO - Drama Tiongkok (Dracin) kolosal telah berkembang menjadi fenomena global yang memikat jutaan penonton lintas negara.

Daya tariknya terletak pada visual yang megah, alur cerita yang kompleks, serta penggunaan efek khusus yang semakin canggih.

Secara umum, drama kolosal Tiongkok didominasi oleh tiga genre utama, yaitu wuxia, xianxia, dan xuanhuan, yang menggabungkan mitologi Tiongkok kuno, seni bela diri, dan elemen fantasi modern.

Tak jarang, produksi drama-drama ini melibatkan ratusan aktor, lokasi syuting berskala besar, serta anggaran fantastis yang kerap disandingkan dengan produksi film blockbuster internasional.

Wuxia: Seni Bela Diri dan Jiwa Kesatria

Wuxia, yang secara harfiah berarti “kesatria seni bela diri”, merupakan genre paling klasik dalam drama kolosal Tiongkok.

Genre ini berfokus pada kisah para pendekar di dunia historis atau semi-fiktif Tiongkok kuno, tanpa dominasi unsur supranatural.

Cerita wuxia umumnya menekankan nilai-nilai kehormatan, kesetiaan, balas dendam, dan persaudaraan, dengan tokoh utama yang digambarkan sebagai “xia”, kesatria yang menentang tirani dan ketidakadilan.


Salah satu contoh ikoniknya adalah The Legend of the Condor Heroes (2017), adaptasi novel karya Jin Yong.

Drama ini dibintangi oleh Yang Xuwen, Li Yitong, Cheng Xingxu, dan Meng Ziyi.

Melalui kisah petualangan yang sarat konflik antar sekte, persahabatan, dan dilema moral, drama ini menampilkan esensi wuxia yang kuat, sekaligus menegaskan relevansinya sebagai karya klasik yang terus dinikmati lintas generasi.

Xianxia: Perjalanan Kultivasi Menuju Keabadian

Berbeda dari wuxia, xianxia menghadirkan dunia fantasi yang kental dengan unsur supranatural.

Genre ini yang berarti “pahlawan abadi”, populer sejak 2010-an dan berfokus pada perjalanan kultivasi (xiulian) untuk mencapai keabadian melalui meditasi, ramuan ajaib, serta pertarungan melawan iblis dan makhluk mitologis.

Dunia xianxia dipenuhi sekte-sekte spiritual, artefak kuno, serta makhluk legendaris seperti naga dan rubah berekor sembilan.


Contoh paling terkenal adalah The Untamed (2018), adaptasi novel Mo Dao Zu Shi karya Mo Xiang Tong Xiu, yang dibintangi Xiao Zhan dan Wang Yibo.

Drama ini mengisahkan Wei Wuxian dan Lan Wangji, dua kultivator muda yang terjerat konflik antar sekte serta praktik kultivasi yang menyimpang.

Dengan narasi penuh misteri, konflik moral, dan pertarungan spiritual, The Untamed merepresentasikan karakter utama genre xianxia, yakni kultivasi, keabadian, dan pergulatan antara kekuatan terang dan gelap.

Xuanhuan: Fantasi Timur dengan Sentuhan Barat

Xuanhuan, yang berarti “fantasi misterius”, memiliki kemiripan dengan xianxia tapi lebih fleksibel dalam membangun dunianya.

Genre ini mengintegrasikan unsur-unsur fantasi Barat seperti sihir, sistem level kekuatan, dunia paralel, dan mekanisme yang menyerupai game, sambil tetap berakar pada mitologi dan filosofi Tiongkok.


Salah satu contoh populer adalah Battle Through the Heavens (2018), adaptasi novel Doupo Cangqiong karya Tiancan Tudou, yang dibintangi Leo Wu dan Lin Yun.

Drama ini mengikuti perjalanan Xiao Yan, seorang jenius yang kehilangan kekuatan kultivasinya dan harus bangkit dari nol.

Dunia cerita dipenuhi sistem tingkatan kekuatan, artefak magis, serta pertarungan besar antar klan dan sekte.

Unsur inilah yang membuat xuanhuan sangat diminati, khususnya oleh penonton muda dan penggemar game, karena nuansanya yang menyerupai litRPG (literary role-playing game).

Mengapa Drama Cina Kolosal Tetap Diminati Meski Episodenya Panjang?

Salah satu ciri khas drama Cina kolosal adalah jumlah episode yang bisa mencapai puluhan, bahkan lebih dari 50 episode.

Meski demikian, genre ini tetap memiliki penggemar yang kuat dan loyal.

Hal ini disebabkan oleh pembangunan dunia cerita yang detail, perkembangan karakter yang bertahap, serta konflik yang dirancang berlapis.

Durasi panjang memungkinkan penonton menyelami perjalanan emosional tokoh, memahami dinamika antar sekte atau klan, serta menikmati transformasi karakter dari waktu ke waktu.


Selain itu, drama kolosal sering menawarkan escapism atau pelarian dari realitas, melalui dunia fantasi yang luas dan visual spektakuler.

Kombinasi cerita epik, nilai moral, romansa, serta aksi menjadikan drama Cina kolosal bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman naratif yang membuat penonton larut dalam cerita.

Inilah yang membuatnya tetap digemari, meskipun membutuhkan komitmen waktu yang tidak sedikit.

Drama Kolosal sebagai Representasi Budaya dan Sejarah

Selain menawarkan hiburan, drama Cina kolosal juga berperan sebagai medium representasi budaya dan sejarah Tiongkok.

Melalui latar kerajaan, dunia bela diri, hingga alam fantasi yang terinspirasi dari mitologi kuno, drama-drama ini memperkenalkan nilai-nilai budaya dan filosofi tradisional Tiongkok, serta konsep moral seperti kehormatan, kesetiaan, dan keseimbangan hidup.

Unsur kostum tradisional, arsitektur klasik, hingga struktur sosial yang ditampilkan turut memperkaya pengalaman menonton, sekaligus menjadi sarana promosi budaya yang memperluas pengaruh budaya Tiongkok ke kancah global. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#xuanhuan #Wuxia #xianxia #Dracin #drama tiongkok #Kolosal