Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Jackie Chan dan Lagu Perpisahan yang Disiapkan untuk Hari Terakhir Hidupnya

Magang Radar Malioboro • Jumat, 30 Januari 2026 | 11:30 WIB
Jackie Chan.
Jackie Chan.

RADAR MALIOBORO - Jackie Chan dikenal sebagai aktor yang selama puluhan tahun kerap membintangi film-film bergenre laga dan bela diri.

Ia lekat dengan adegan aksi berisiko yang dilakukan sendiri, serta citra pekerja keras yang membangun namanya sebagai bintang film kungfu internasional.

Namun, di usia 71 tahun, Jackie Chan memperlihatkan sisi lain dari dirinya yang lebih tenang, reflektif, dan penuh perenungan tentang hidup.

Melansir dari china.org.cn, dalam acara pemutaran perdana film terbarunya berjudul “Unexpected Family” di Beijing pada 28 Desember 2025, Jackie Chan mengungkap bahwa ia telah menyiapkan sebuah lagu perpisahan.

Lagu tersebut tidak akan dirilis dalam waktu dekat, melainkan baru akan dipublikasikan setelah ia meninggal dunia.

Pengakuan ini langsung menarik perhatian publik dan memicu perbincangan luas di media sosial.

Pengakuan tersebut disampaikan Jackie Chan melalui monolog singkat namun emosional di hadapan penonton.

Ia menegaskan bahwa lagu itu bukan proyek komersial atau karya yang ia harapkan mendapat tepuk tangan.

Lagu tersebut adalah pesan terakhir yang ia siapkan untuk dunia, sebuah penutup perjalanan hidup yang baru akan berbicara ketika ia sudah tiada.

Lagu itu telah direkam, tetapi disimpan rapat atas permintaan keluarga dan tim manajemennya, dan hanya boleh dirilis pada hari kepergiannya kelak.

Keputusan ini, menurut Jackie Chan, lahir dari pengalaman kehilangan banyak orang terdekat dalam beberapa tahun terakhir.

Perpisahan yang datang silih berganti membuatnya semakin sadar bahwa usia dan kematian adalah kenyataan yang tak bisa ditunda atau dihindari.

Ia bahkan mengaku bahwa media sosialnya kini lebih sering dipenuhi kabar duka, dan setiap kehilangan meninggalkan bekas mendalam tentang rapuhnya kehidupan manusia.

“Lagu ini adalah tujuan akhir hidup yang kusiapkan untuk diriku sendiri,” ujar Jackie Chan.

Ia menambahkan bahwa keberanian sejati bukanlah soal hidup tanpa rasa takut, melainkan kemampuan menerima kenyataan hidup dan menata segalanya dengan tenang.

Pandangan ini menandai perubahan besar dalam cara ia memaknai hidup, dari sosok pencari adrenalin menjadi pribadi yang lebih berdamai dengan waktu.


Ia juga mengenang pola pikirnya di masa lalu.

“Dulu aku sempat berpikir akan mati di usia 40-an, mungkin aku bisa melakukan adegan yang sangat berbahaya lalu mati, dan dengan begitu menjadi legenda,” ungkapnya, seperti dikutip dalam china.org.cn.

Kini, obsesi tersebut tak lagi ia pegang.

Lagu perpisahan itu sendiri dikerjakan bersama musisi-musisi yang telah lama bekerja dengannya.

Liriknya memuat refleksi personal tentang keluarga, persahabatan, perjalanan hidup, serta penyesalan yang tak selalu sempat diucapkan.

Namun, Jackie Chan memilih untuk menyimpan isi lagu tersebut sebagai rahasia hingga hari terakhirnya.

Ia bahkan menolak permintaan penonton untuk menyanyikan sepenggal lagu itu di atas panggung, sambil berseloroh bahwa ia tak ingin membuat semua orang menangis.

Di momen yang sama, Jackie Chan juga berbicara jujur tentang hubungannya dengan sang putra, Jaycee Chan.

Ia mengakui bahwa hubungan mereka pernah terasa kaku dan berjarak.

Keduanya bahkan sempat sepakat hanya saling menelepon setahun sekali.

Namun, karena cara bicaranya yang terlalu keras dan minim kehangatan, komunikasi itu perlahan terputus.

Kini, Jackie Chan menyimpan penyesalan mendalam dan hanya berharap putranya hidup aman dan bahagia.

Refleksi tersebut sejalan dengan perubahan sikap Jackie Chan terhadap usia dan penampilan fisiknya.

Rambut putihnya yang sempat ramai diperbincangkan publik ia tanggapi dengan santai.

Baginya, menua adalah sebuah keberuntungan, karena tidak semua orang diberi kesempatan untuk tumbuh tua.

Ia pun memilih menjalani hidup dengan lebih jujur, mengatakan apa yang ingin dikatakan dan melakukan apa yang ingin dilakukan tanpa terlalu cemas pada masa depan.

“Aku merasa bahwa apa pun yang ingin aku katakan, sebaiknya aku katakan sekarang. Apa pun yang ingin aku lakukan, sebaiknya aku lakukan segera,” tuturnya.

Filosofi tentang perpisahan dan penyesalan ini juga tercermin kuat dalam “Unexpected Family”.

Dalam film tersebut, Jackie Chan memerankan seorang pria tua yang menderita penyakit serius dan terus menunggu kehadiran sosok yang ia anggap sebagai anaknya.

Salah satu adegan, ketika ia menangis sambil memegang papan dan menunggu, disebut-sebut sebagai pantulan emosi pribadinya di kehidupan nyata.

Sutradara film tersebut mengungkap bahwa Jackie Chan sempat mengalami luapan emosi saat proses syuting adegan itu.

Bagi Jackie, peran tersebut bukan sekadar akting, melainkan ruang untuk menyalurkan perasaan yang selama ini terpendam.

“Ayah dalam film menunggu anaknya, dan aku di luar layar juga menunggu kesempatan untuk meminta maaf. Tetapi, beberapa penyesalan mungkin tak akan pernah bisa ditebus,” ujarnya dengan jujur.

Film “Unexpected Family” juga menandai pergeseran citra Jackie Chan dari bintang laga menjadi aktor drama yang lebih kompleks.

Ia menyebut ingin dikenal sebagai aktor yang bisa berakting, bukan sekadar melakukan adegan bela diri.

Ketertarikannya pada film ini juga dipicu oleh kisah personal sang sutradara, Li Taiyan, yang terinspirasi dari pengalaman keluarganya sendiri dan mengingatkan Jackie pada sosok ibunya.

Pengungkapan tentang lagu perpisahan ini memicu beragam reaksi publik.

Banyak penggemar mengaku terharu dan merasa diingatkan bahwa sosok yang mereka kagumi sejak kecil juga manusia yang menua.

Sebagian lainnya berharap lagu tersebut tak pernah dirilis dan Jackie Chan diberi umur panjang.

Di tengah refleksi tentang kematian, Jackie Chan menegaskan bahwa kecintaannya pada hidup dan dunia film tetap utuh.

Ia masih memiliki sejumlah proyek mendatang dan berharap bisa terus membuat setidaknya satu film setiap tahun selama fisiknya memungkinkan.

Baginya, menghadapi kematian bukan berarti menyerah pada hidup, melainkan cara paling jujur untuk menghargainya.

“Dulu aku pernah berkata, selama aku masih bisa bertarung. Sekarang aku berkata, selama aku masih bisa berakting, aku akan menghadirkan setidaknya satu film setiap tahun untuk kalian, dari berbagai genre, bagi para penggemar yang mencintai sinema. Terima kasih atas dukungan kalian selama ini,” tambahnya.

Melalui lagu yang belum pernah didengar siapa pun itu, Jackie Chan seakan meninggalkan pesan lembut bahwa perpisahan bukanlah akhir, melainkan bentuk penghormatan paling tulus terhadap kehidupan.

Dari sosok laga yang dulu tak takut mati, kini ia tampil sebagai manusia biasa yang berani mengakui rapuhnya waktu dan tetap memilih mencintai hidup hingga detik terakhir. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#bintang film kungfu #beijing #lagu perpisahan #jackie chan