Sebagai pencinta drama Korea, pasti sudah tidak asing dengan salah satu sad ending paling membekas di dunia perdrakoran kisah Na Hee-Do dan Baek Yi-Jin dalam Twenty-Five Twenty-One (2521).
Meski mengudara pada 2022 dan berlatar tahun 1998, pengaruh drama ini tetap bertahan hingga kini. Karya tersebut berhasil membangun stigma sekaligus kecemasan bersama di kalangan pemirsa yang meyakini bahwa jalinan cinta antara seorang atlet profesional dan reporter olahraga sebaiknya dihindari.
Bagi sebagian besar penonton, akhir cerita Twenty-Five Twenty-One bukan sekadar patah hati biasa. Hubungan antara Na Hee-Do (seorang atlet anggar nasional) dan Baek Yi-Jin (seorang reporter berita yang kemudian menjadi jurnalis olahraga) memberikan pelajaran pahit tentang realitas profesi yang membentur perasaan. Dari sinilah stigma itu lahir.
Mengapa publik, khususnya pencinta drakor, kini langsung merasa anxious saat melihat ada atlet nyata yang digosipkan dekat dengan seorang reporter?
Dalam drakor 2521, senior Baek Yi-Jin pernah memberikan wejangan tegas bahwa "Jangan terlalu dekat dengan atlet yang kamu liput. Kamu tidak akan bisa objektif."
Baca Juga: Ulala Jogja Hadirkan Konsep Social Dining Bernuansa Eropa Klasik di Kawasan Palagan
Pernyataan ini terbukti nyata. Tugas seorang reporter adalah menyajikan berita apa adanya—termasuk saat sang atlet mengalami kegagalan, terlibat kontroversi, atau kalah dalam pertandingan. Ketika cinta terlibat, sang reporter akan berada di posisi yang sangat sulit. Stigma ini menanamkan pola pikir bahwa hubungan atlet-reporter sejak awal sudah cacat secara profesionalisme.
"Jika ia menulis berita yang terlalu bagus, ia dinilai bias dan tidak profesional. Jika ia menulis berita kritis demi tugasnya, ia akan melukai hati orang yang dicintainya."
Titik balik terbesar yang memperkuat stigma ini muncul lewat tragedi Ko Yu-Rim yang menggemparkan. Hubungan personal terpaksa dikorbankan demi profesionalisme saat Baek Yi-Jin harus menyiarkan sendiri berita kepindahan sahabat dekat Na Hee-Do tersebut ke Rusia untuk melunasi utang keluarganya. Akibat laporan itu, Yu-Rim seketika dicap sebagai "pengkhianat bangsa" oleh publik.
Yi-Jin, yang melaporkannya dengan air mata berlinang, harus memprioritaskan tugasnya sebagai jurnalis di atas hubungan personalnya. Momen emosional ini menyadarkan Hee-Do dan penonton bahwa suatu saat, jika Hee-Do melakukan kesalahan atau mengambil keputusan kontroversial, Yi-Jin yang harus menyiarkan kehancurannya ke seluruh dunia.
Dunia atlet profesional dipenuhi dengan jadwal latihan yang sangat ketat, karantina, dan turnamen internasional yang menuntut fokus 100%. Di sisi lain, dunia reporter dipenuhi dengan berita dadakan, jam kerja tidak menentu, dan keharusan untuk selalu siap siaga di lapangan terutama jika dikirim ke area konflik atau luar negeri, seperti saat Yi-Jin dikirim ke New York pasca-tragedi 9/11.
Stigma yang terbentuk dari drama ini adalah dua profesi ini sama-sama "menikah" dengan pekerjaannya. Ketika keduanya bersatu, tidak akan ada ruang untuk saling menopang, yang pada akhirnya berujung pada pengabaian emosional secara tidak sengaja.
Dampaknya bahkan terbawa ke dunia nyata. Pasca-meledaknya drama ini, setiap kali ada rumor kencan di dunia nyata antara atlet terkenal dengan seorang presenter berita atau reporter, netizen sering kali langsung berkomentar: "Tolong jangan biarkan trauma 2521 terjadi di dunia nyata," atau "Ini adalah kombinasi kutukan Yi-Jin dan Hee-Do."
Meskipun pada realitasnya banyak pasangan atlet dan reporter di dunia nyata yang hubungannya langgeng hingga jenjang pernikahan, Twenty-Five Twenty-One berhasil mengunci satu stigma di hati penonton dan khalayak publik bahwa ada jenis cinta yang begitu indah, begitu tulus, namun harus menyerah bukan karena adanya orang ketiga, melainkan karena tuntutan profesi yang tidak bisa berkompromi.