YOGYAKARTA — Sutradara peraih Oscar, Christopher Nolan, kembali menggebrak industri sinema dunia. Setelah sukses besar lewat Oppenheimer pada 2023 lalu, Universal Pictures secara resmi merilis karya teranyar Nolan yang paling ambisius tahun ini, The Odyssey. Film epik berdurasi tiga jam ini dijadwalkan mulai tayang di seluruh jaringan bioskop Indonesia tepat hari ini, Rabu, 15 Juli 2026.
The Odyssey merupakan proyek adaptasi dari salah satu mahakarya sastra Yunani kuno paling terkenal di dunia barat tulisan penyair legendaris, Homer. Untuk menghidupkan kisah mitologi ini, Nolan tidak main-main dengan mengumpulkan deretan aktor papan atas Hollywood.
Matt Damon didapuk sebagai sang tokoh utama, Odysseus. Ia didampingi oleh Anne Hathaway sebagai Penelope dan Tom Holland sebagai Telemachus. Tak hanya itu, film ini juga dimeriahkan oleh Zendaya, Robert Pattinson, Lupita Nyong’o, Charlize Theron, Jon Bernthal, Elliot Page, serta penampilan spesial dari musisi Travis Scott.
Sinopsis tentang Pengembaraan 10 Tahun Melawan Monster dan Dewa
Baca Juga: Bocoran iPhone Air 2 Makin Terang, Baterai Lebih Awet dan Kamera Kini Dua Lensa
The Odyssey berfokus pada kisah perjalanan pulang yang sangat panjang dan melelahkan dari Odysseus (Matt Damon), Raja Ithaca, usai berakhirnya Perang Troya. Perjalanan yang semula diperkirakan singkat justru berubah menjadi sebuah pengembaraan penuh marabahaya selama 10 tahun akibat kutukan dan campur tangan para dewa laut.
Odysseus bersama sisa pasukannya harus bertahan hidup menghadapi berbagai rintangan mengerikan dan makhluk mitologi ikonik. Sementara itu, di belahan bumi lain tepatnya di Kerajaan Ithaca, sang istri, Penelope (Anne Hathaway), bersama putranya, Telemachus (Tom Holland), harus berjuang mati-matian mempertahankan takhta kerajaan dari para pelamar serakah sembari terus merawat harapan akan kepulangan Odysseus.
Di Balik Layar: Aktor Muntah Masuk Kamera dan Syuting Tanpa CGI
Bukan Christopher Nolan namanya jika tidak totalitas dalam menggunakan efek praktis tanpa ketergantungan pada green screen atau kecerdasan buatan (AI). Selama proses syuting yang berlangsung di perairan ganas lepas pantai Skotlandia pada Juli 2025 lalu, Nolan nekat menerjang badai asli demi mendapatkan visual lautan yang dramatis.
Akibat ombak besar dan guncangan kapal yang luar biasa dahsyat, sejumlah aktor pendukung dilaporkan mengalami mabuk laut parah hingga muntah. Alih-alih menghentikan syuting, Nolan justru meminta sinematografer andalannya, Hoyte van Hoytema, untuk tetap merekam momen riil tersebut.
"Maaf, tapi bolehkah kita merekam adegan muntah itu? Mereka benar-benar siap menjalaninya. Hari itu terasa luar biasa sekaligus menyiksa, tetapi menghasilkan beberapa gambar favorit saya di film ini," kenang Nolan penuh kekaguman atas dedikasi para kru dan pemain.
Matt Damon juga mengakui betapa beratnya siksaan fisik selama proses produksi. Ia menegaskan tidak ada perlakuan khusus bagi para bintang Hollywood. Jika badai datang, semua orang—termasuk Nolan sendiri—akan basah kuyup dan kedinginan bersama-sama di tengah laut tanpa minuman hangat.
Inovasi Kamera IMAX Baru yang Lebih Senyap
Selain tantangan alam, The Odyssey juga melahirkan terobosan teknologi baru di industri perfilman dunia. Mengingat sebagian besar adegan diambil menggunakan kamera IMAX raksasa yang terkenal sangat bising, Nolan dan tim teknisnya sengaja mengembangkan teknologi peredam baru.
Teknologi mutakhir ini berhasil membuat kamera IMAX bekerja jauh lebih senyap. Alhasil, Nolan dapat melakukan pengambilan gambar jarak dekat (close-up) yang sangat intim dan personal bersama Matt Damon maupun Anne Hathaway tanpa perlu terganggu suara bising mesin kamera.
Perdebatan Masa Depan Film Epik Non-Waralaba
Menjelang perilisan resminya, The Odyssey menuai banjir ulasan positif dari para kritikus film dunia dan dinilai sebagai pengalaman sinematik yang luar biasa. Menariknya, film ini sempat memicu perdebatan kecil antara Matt Damon dan Christopher Nolan mengenai masa depan film non-waralaba berbiaya besar.
Damon sempat pesimistis dan merasa ini adalah kesempatan terakhirnya bermain dalam film berskala masif dengan set asli di seluruh dunia, mengingat studio zaman sekarang cenderung enggan menggelontorkan dana besar untuk film non-kolektif. Namun, Nolan menolak pandangan pesimistis tersebut.
Menjabat sebagai Presiden Directors Guild of America, Nolan percaya medium film akan terus hidup, bertransformasi, dan penonton muda (Gen Z) tidak akan pernah bosan menikmati film epik berdurasi panjang asalkan memiliki ide yang orisinal dan kuat.
Editor : Bahana.