Daya tarik utama tulisan Higashino terletak pada kemampuannya memadukan kerangka berpikir sains yang sangat logis dan sistematis dengan kehangatan serta kepedihan emosional para karakternya.
Meski kini dikenal sebagai penulis produktif, minat Higashino terhadap literatur tidak tumbuh sejak kecil, sebab ia mengaku sempat enggan membaca buku semasa muda. Pengalaman itulah yang justru membentuk gaya penulisannya menjadi sangat lugas dan mudah dicerna. Berlatar belakang pendidikan Teknik Elektro dari Osaka Prefecture University, ia sempat melakoni profesi sebagai insinyur di industri komponen otomotif.
Karier kepenulisannya melesat setelah novel debutnya, Hōkago (After School), meraih penghargaan Edogawa Rampo Prize pada tahun 1985, yang mendorongnya untuk mundur dari pekerjaan teknik dan fokus menjadi penulis penuh waktu di Tokyo.
Berbeda dari narasi misteri tradisional yang berfokus mencari tahu sosok pelaku kejahatan (Who-dunit), Higashino kerap membeberkan identitas pelaku sejak awal cerita. Alur narasinya lebih menyoroti metode pembunuhan yang melibatkan trik sains rumit (How-dunit), serta alasan emosional mendasar di balik tindakan tersebut (Why-dunit).
Baca Juga: Era Baru Big Bike Petualang Dimulai, New NX500 Perdana Meluncur di Indonesia
Tokoh-tokoh dalam buatannya tidak digambarkan secara hitam-putih, melainkan berada di area abu-abu moralitas, di mana aksi kriminal sering kali lahir dari rasa cinta, pengorbanan, atau keputusasaan yang mendalam.
Dari puluhan karya yang diterbitkannya selama lebih dari empat dekade, Higashino melahirkan dua figur detektif yang sangat ikonik. Pertama adalah Profesor Manabu Yukawa dalam Serial Detektif Galileo, seorang ahli fisika yang memecahkan kejahatan berdalih fenomena supranatural lewat pendekatan ilmiah murni, seperti yang terlihat dalam karya pemenang Naoki Prize, The Devotion of Suspect X. Kedua adalah Detektif Kyoichiro Kaga, yang mengandalkan pendekatan humanis dan kepekaan psikologis untuk mengungkap misteri. Di luar genre kriminal murni, ia juga membuktikan keluwesannya lewat fiksi sentimental seperti Miracles of the Namiya General Store.
Pena sang maestro telah beristirahat usai ia berpulang pada 23 Juli 2026 di usia 68 tahun akibat kanker usus besar. Meski demikian, kehangatan dan kejeniusan dalam setiap karya monumentalnya akan terus melintasi batas zaman dan menempati ruang istimewa di hati para pembaca di seluruh dunia.
Alfiani Hidayatul Choiriyah
Editor : Bahana.