JOGJA - Bagi sebagian orang, keterbatasan fisik sering kali dijadikan alasan untuk membatasi ruang gerak. Namun, di balik layar bioskop dan sorot lampu kamera, stigma itu patah. Film berjudul Istimewa hadir bukan sekadar memberikan tontonan, melainkan sebuah tamparan keras bagi siapa saja yang selama ini memandang anak-anak penyandang disabilitas dengan sebelah mata.
Kali ini Jogjakarta menjadi persinggahan keempat dari rangkaian pemutaran film Istimewa tersebut. Itu setelah sebelumnya menyambangi Bandung, Semarang, dan Solo. Sebuah pilihan kota yang dinilai amat relevan dengan judul karya tersebut.
Produser film Istimewa, Abdullah Mansuri, mengungkapkan bahwa film ini memecahkan rekor sebagai karya layar lebar pertama di Indonesia yang seluruh pemeran utamanya merupakan anak-anak disabilitas.
"Kami tahu anak disabilitas di negeri ini masih banyak dibuli, dikucilkan, disingkirkan, tidak diakui, bahkan ada yang dibuang. Hari ini, film ini akan menjawab semua keraguan, bulian, dan hardikan itu," katanya, Jumat (14/8).
Baca Juga: Spesial Bulan Kemerdekaan, Astra Motor Yogyakarta Hadirkan Program “Pesta Merdeka”
Abdullah menjelaskan, film Istimewa tersebut bukan fiksi rekaan belaka, melainkan manifestasi dari kisah nyata dan perjalanan hidupnya. Ia menceritakan bagaimana dinamika yang melatarbelakangi lahirnya enam tokoh utama serta 42 anak disabilitas lainnya yang terlibat dalam produksi.
"Ada yang cerebral palsy, ada daksa seperti Niatus yang dulu dibuang orang tuanya di pinggir sungai. Ada juga Bambang dari Semarang yang dulu cuma bisa mengunci pintu kamar karena dianggap beban keluarga. Hari ini mereka membuktikan mampu berkarya di layar lebar dengan kualitas yang tak kalah dari artis hebat lainnya," bebernya.
Abdullah mengungkapkan, sebenarnya proses panjang melahirkan film Istimewa membutuhkan waktu persiapan hingga dua tahun, termasuk coaching akting bersama pelatih Werdi Sulaiman selama 1,5 bulan. Uniknya, proses pengambilan gambar (shooting) justru tuntas hanya dalam kurun waktu satu bulan.
Kendala terbesar selama produksi bukanlah pada kemampuan berakting para pemain, melainkan pencarian lokasi yang ramah disabilitas (barrier-free).
Baca Juga: Selalu Candu di Telinga: Mengapa Karya-Karya LANY Selalu Punya Tempat di Hati Pendengar?
"Sebenarnya kami yang khawatir soal lokasi. Untuk pemain dengan cerebral palsy, berpindah titik itu tidak mudah jika menggunakan kursi roda di jalanan yang tidak memadai. Jadi tantangannya ada pada pemilihan lokasi yang tepat," cetusnya.
Di balik semua ujian, termasuk pengorbanan materiil hingga menjual mobil pribadi demi mendampingi sekitar 4.900 anak disabilitas binaannya di seluruh Indonesia, Abdullah meyakini niat tulus akan menemukan jalannya.
Di sisi lain, bagi para pemain, terlibat dalam layar lebar merupakan lompatan besar yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bambang Kurniawan, atau yang akrab disapa Bambang Ceper, mengaku proses syuting menjadi momen paling berkesan karena rasa kekeluargaan yang erat antar pemain.
"Awalnya enggak nyangka sama sekali. Anak disabilitas kan biasanya dipandang sebelah mata, sekarang alhamdulillah bisa main film di layar lebar. Ini suatu kebanggaan," jelasnya.
Baca Juga: DPRD Kota Jogja Dorong Bahasa Jawa Krama Wajib di Sekolah, Siapkan Buku Saku untuk Siswa
Bambang menuturkan, selama proses produksi ia dan rekan-rekannya tidak mengalami kesulitan berarti saat berakting di depan kamera. Karakter yang dimainkan berakar dari kisah hidup sehari-hari, sehingga adegan demi adegan mengalir secara natural tanpa rekayasa yang dipaksakan.
Melalui karya ini, baik pembuat film tersebut Bambang mengaku sangat menaruh harapan besar pada publik luas, khususnya bagi masyarakat Jogjakarta kota yang dikenal ramah dan berhati nyaman agar dapat menghargai para anak-anak disabilitas.
"Buat teman-teman disabilitas, harus tetap semangat. Jangan hiraukan perkataan orang lain," tandasnya. (ayu).
Editor : Iwa Ikhwanudin