Layar bioskop Indonesia tak pernah sepi dari keriuhan film horor. Uniknya, jika diamati lebih cermat, sosok penampakan yang menebar teror hampir selalu berwujud perempuan.
Dari mitologi klasik hingga modern, hantu perempuan seolah memegang monopoli atas rasa takut penonton Indonesia. Lantas, mengapa industri perfilman kita begitu gemar menampilkannya?
Fenomena ini bukanlah tanpa alasan. Dominasi hantu perempuan di layar lebar merupakan cermin dari belum terwujudnya kesetaraan gender, baik dalam konstruksi sosial masyarakat maupun di balik layar industri film itu sendiri.
Dalam narasi sosial patriarki, perempuan sering kali didefinisikan secara kaku lewat peran domestik dan fungsi reproduksinya sebagai istri serta ibu.
Ketika seorang perempuan "gagal" memenuhi ekspektasi tersebut akibat tragedi, tindak kejahatan, atau kekerasan seksual, masyarakat cenderung melekatkan stigma negatif bahkan hingga ia tiada.
Baca Juga: Diduga Berorientasi Sex Menyimpang, Chat Mahasiswa Ini Viral, Fetish Suara Kentut Dipertanyakan
Hal ini terlihat jelas pada mitos Sundel Bolong yang diposisikan sebagai figur ibu yang gagal karena meninggal saat mengalami keguguran atau menjadi korban kekerasan.
Rasa sakit dan penderitaan semasa hidup diabaikan, lalu begitu menjadi arwah, sosok mereka diubah menjadi monster yang menakutkan dan wajib ditaklukkan.
Kondisi ini diperparah oleh minimnya representasi perempuan di jajaran pembuat keputusan industri film Indonesia.
Posisi strategis seperti sutradara, penulis skenario, dan produser film horor masih didominasi oleh laki-laki, sehingga sudut pandang yang digunakan cenderung berjarak (male gaze).
Eksploitasi terhadap trauma dan tubuh perempuan berfokus pada estetika ketakutan yang sensasional demi menjual tiket bioskop. Amarah hantu perempuan pada dasarnya adalah manifestasi dari ketakutan budaya patriarki itu sendiri terhadap dendam korban ketidakadilan.
Seiring berkembangnya zaman beberapa sineas mulai mencoba membongkar klise ini dengan menghadirkan horor psikologis yang lebih berempati pada korban. Namun, perjalanan menuju kesetaraan narasi masih panjang.
Editor : Bahana.