RADAR MALIOBORO - Banyak orang pernah mengalami hal yang sama: membuka ponsel dengan niat sebentar, lalu tanpa sadar waktu sudah berlalu cukup lama. Fenomena ini semakin sering terjadi di tengah kebiasaan masyarakat yang sulit lepas dari layar ponsel, baik untuk hiburan, komunikasi, maupun mencari informasi.
Salah satu penyebabnya adalah cara aplikasi digital dirancang. Konten yang terus bergulir tanpa batas, video pendek yang langsung tersambung ke video berikutnya, hingga notifikasi yang muncul berkala membuat perhatian pengguna sulit terlepas.
Fokus yang terjaga di layar inilah yang perlahan mengaburkan kesadaran akan waktu.
Otak Kehilangan Rasa terhadap Waktu
Saat seseorang terlalu asyik menatap ponsel, otak cenderung masuk ke kondisi santai. Dalam keadaan ini, tubuh tidak aktif menghitung durasi aktivitas. Akibatnya, lima menit bisa terasa seperti baru beberapa detik, padahal kenyataannya jauh lebih lama.
Tak sedikit pula yang menjadikan ponsel sebagai pelarian dari rasa bosan atau lelah setelah beraktivitas seharian. Menggeser layar terasa ringan dan tidak membutuhkan banyak energi, sehingga sering dianggap sebagai aktivitas singkat.
adahal, justru karena terasa ringan itulah waktu cepat terbuang tanpa disadari.
Efek Kenikmatan dari Konten Digital
Konten di ponsel kerap memberikan sensasi menyenangkan dalam waktu singkat. Setiap video menarik, pesan masuk, atau unggahan baru memicu rasa ingin melihat lebih banyak. Selama rasa nyaman itu muncul, otak cenderung menunda keputusan untuk berhenti.
Kebiasaan ini sebenarnya wajar di era digital. Namun, jika tidak disadari, penggunaan ponsel bisa menyita waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal lain, seperti beristirahat, berbincang langsung, atau menyelesaikan pekerjaan.
Perlu Lebih Sadar Mengatur Waktu
Ponsel bukanlah musuh, tetapi cara menggunakannya perlu dikendalikan. Dengan lebih sadar kapan dan untuk apa membuka ponsel, waktu tidak akan terasa cepat habis begitu saja. Kesadaran kecil ini bisa membantu menjaga keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan sehari-hari.
(Aribah Zalfa Nur Aini)
Editor : Iwa Ikhwanudin