RADAR MALIOBORO - Di banyak negara, internet identik dengan platform global seperti Google, Instagram, Facebook, X, dan YouTube.
Aplikasi-aplikasi ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari mencari informasi, berkomunikasi, hingga hiburan.
Namun, kondisi tersebut tidak berlaku di China.
Negara ini justru membangun ekosistem aplikasi digitalnya sendiri dan membatasi penggunaan platform global.
Keputusan China untuk mengembangkan aplikasi lokal bukanlah hal yang muncul secara tiba-tiba.
Sejak akhir 1990-an, ketika internet mulai berkembang pesat, pemerintah China memandang teknologi digital sebagai sesuatu yang harus diawasi dengan ketat.
Internet dianggap memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik, menyebarkan informasi, dan memengaruhi stabilitas sosial serta politik.
Karena itu, China menilai perlu adanya kontrol negara terhadap arus informasi digital.
Dari pandangan tersebut, lahirlah kebijakan sensor internet yang dikenal sebagai Great Firewall.
Melansir britannica.com, Great Firewall adalah sistem khusus yang dibuat pemerintah China untuk mengontrol internet di dalam negaranya.
Sistem ini digunakan untuk mengawasi dan membatasi informasi yang bisa diakses oleh masyarakat.
Tujuannya adalah membatasi pengaruh dari luar negeri dan mencegah penyebaran informasi yang dianggap berbahaya atau bisa mengganggu stabilitas negara.
Dengan adanya Great Firewall, internet di China menjadi ruang yang lebih tertutup dan terpisah dari internet global.
Seiring waktu, kebijakan ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pengawasan, tetapi juga mendorong China untuk tidak bergantung pada teknologi asing.
Baca Juga: Prabowo Subianto Terbang ke Moskow, Bertemu Putin Bahas Energi dan Geopolitik Dunia Hari Ini
Pemerintah kemudian mendukung perusahaan teknologi dalam negeri agar mampu menciptakan aplikasi pengganti yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara mandiri.
Apakah Warga China Bisa Mengakses Aplikasi Global?
Secara umum, warga China tidak dapat mengakses aplikasi global seperti Google, Instagram, Facebook, X, dan YouTube melalui koneksi internet biasa.
Aplikasi-aplikasi tersebut diblokir oleh sistem sensor negara dan tidak bisa digunakan secara normal.
Pemblokiran ini mulai diperketat sejak akhir 2000-an, ketika media sosial global semakin berpengaruh dalam kehidupan masyarakat dunia.
Meskipun demikian, sebagian warga China masih bisa mengakses aplikasi luar negeri dengan menggunakan Virtual Private Network (VPN).
Namun, penggunaan VPN di China sangat dibatasi.
VPN legal umumnya hanya diperbolehkan untuk perusahaan atau institusi resmi, sedangkan penggunaan pribadi berisiko terkena sanksi.
Pemerintah secara rutin memblokir layanan VPN ilegal dan melakukan kampanye penertiban.
Akibat kondisi ini, mayoritas warga China memilih untuk menggunakan aplikasi lokal.
Selain karena lebih aman dari sisi hukum, aplikasi buatan dalam negeri juga sudah sangat lengkap, cepat, dan terintegrasi dengan berbagai layanan penting.
Lambat laun, aplikasi global menjadi kurang relevan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat China.
Ekosistem Aplikasi Lokal China
Alih-alih membiarkan warganya kehilangan akses digital, China justru mendorong lahirnya aplikasi-aplikasi lokal.
Pemerintah memberi ruang besar bagi perusahaan teknologi dalam negeri seperti Tencent, Alibaba, dan ByteDance untuk berkembang.
Aplikasi-aplikasi ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dalam satu ekosistem digital yang besar dan terintegrasi dengan sistem pembayaran serta layanan publik.
WeChat adalah aplikasi paling penting di China dan sering disebut sebagai super-app.
Aplikasi ini menggabungkan fungsi pesan instan, media sosial, dan layanan keuangan dalam satu platform.
Pengguna dapat mengirim pesan teks dan suara, melakukan panggilan video, membagikan foto, serta memposting aktivitas sehari-hari.
Selain itu, WeChat juga digunakan untuk pembayaran digital melalui WeChat Pay, memesan transportasi, membeli tiket, membayar tagihan, hingga mengakses layanan administrasi tertentu.
Karena hampir semua aspek kehidupan terhubung dengan WeChat, aplikasi ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas harian warga China.
Baca Juga: Spesial Bulan April, Astra Motor Yogyakarta Hadirkan Program APRILicious
Douyin
Douyin adalah aplikasi video pendek yang dikembangkan oleh ByteDance dan menjadi versi domestik dari TikTok.
Aplikasi ini sangat populer di China dengan jutaan video baru diunggah setiap hari.
Douyin menggunakan algoritma rekomendasi yang kuat untuk menyesuaikan konten dengan minat pengguna.
Selain sebagai sarana hiburan, Douyin juga menjadi pusat kegiatan ekonomi digital.
Melalui fitur siaran langsung, kreator dapat menjual produk secara langsung kepada penonton, menjadikan Douyin salah satu platform e-commerce berbasis konten terbesar di China.
Berbeda dengan TikTok global, Douyin menerapkan aturan konten yang lebih ketat sesuai regulasi negara.
Baca Juga: Spesial Bulan April, Astra Motor Yogyakarta Hadirkan Program APRILicious
Weibo sering dianggap sebagai padanan X (sebelumnya Twitter) di China.
Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk mengunggah tulisan singkat, gambar, dan video, serta mengikuti akun lain untuk mendapatkan informasi terbaru.
Weibo banyak digunakan untuk mengikuti berita, isu sosial, dan perkembangan dunia hiburan.
Platform ini juga menjadi tempat diskusi publik, meskipun seluruh kontennya tetap berada di bawah pengawasan ketat.
Unggahan yang dianggap sensitif dapat dihapus dengan cepat, dan akun pengguna dapat dibatasi jika melanggar aturan.
Xiaohongshu (Little Red Book)
Xiaohongshu adalah platform berbagi gaya hidup yang fokus pada konten visual dan ulasan produk.
Aplikasi ini sering disamakan dengan gabungan Instagram dan Pinterest.
Pengguna membagikan pengalaman pribadi seputar kecantikan, fashion, makanan, dan perjalanan, disertai ulasan yang dianggap lebih jujur dan informatif.
Karena banyak digunakan oleh kalangan muda perkotaan dengan daya beli tinggi, Xiaohongshu menjadi platform penting bagi strategi pemasaran dan promosi produk, baik lokal maupun internasional.
Baca Juga: Aksi Kencang Pebalap Astra Honda Taklukkan Podium ARRC Sepang
Aplikasi Pendukung Lainnya
Selain aplikasi utama tersebut, China juga memiliki Baidu sebagai mesin pencari pengganti Google, Zhihu sebagai platform tanya jawab dan diskusi pengetahuan.
Bilibili sebagai platform video untuk komunitas anime, game, dan kreator muda, serta Kuaishou sebagai aplikasi video pendek yang populer di wilayah non-perkotaan.
Di bidang keuangan digital, Alipay dari Ant Group menjadi salah satu sistem pembayaran terbesar yang mendukung transaksi harian masyarakat tanpa uang tunai.
China memang tidak menggunakan banyak platform digital yang populer secara global.
Baca Juga: Astra Honda Siap Kembali Melesat Dominasi Balap Asia
Namun, hal ini tidak membuat perkembangan digitalnya tertinggal.
Sebaliknya, China berhasil membangun ekosistem internetnya sendiri yang kuat dan mandiri.
Internet di China mungkin tidak sebebas di negara lain, tetapi sangat tertata dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Aplikasi buatan dalam negeri tidak hanya menggantikan platform global, tetapi juga menjadi penggerak utama ekonomi digital bernilai sangat besar.
Pengalaman China menunjukkan bahwa perkembangan internet tidak harus mengikuti satu pola yang sama.
Dengan kebijakan dan tujuan tertentu, sebuah negara dapat membentuk dunia digitalnya sendiri sesuai dengan kepentingan nasional. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva