Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Sembilan Kemantren di Kota Jogja Rawan Pergeseran Tanah

Khairul Ma'arif • Rabu, 29 November 2023 | 02:32 WIB
Proses pembangunan talut di Kota Jogja
Proses pembangunan talut di Kota Jogja

JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja menyebut ada sembilan kemantren yang berpotensi mengalami pergeseran tanah. Diketahui Kota Jogja mulai memasuki musim penghujan pada akhir November 2023 ini. 

"Sembilan kemantren yang berpotensi mengalami pergeseran tanah di Kota Jogja meliputi Danurejan, Gondokusuman, Gondomanan, Jetis, Kotagede, Mergangsan, Pakualaman, Tegalrejo dan juga Umbulharjo," kata Ketua Tim Kerja Data Informasi Komunikasi Kebencanaan BPBD Kota Jogja Darmanto Selasa (28/11).

Menurutnya, potensi itu terjadi pada Februari 2024 nanti. Kerentanan di sembilan kemantren itu juga didasarkan dari laporan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (SDM).

Laporan itu disusun berdasarkan hasil tumpang susun (overlay) antara peta zona kerentanan gerakan tanah dengan peta prakiraan curah hujan bulanan yang diperoleh dari BMKG. Puncak musim hujan saat Februari nanti, kesembilan kemantren tersebut secara umum berada di area bantaran sungai.

Menurutnya, rata-rata memang berada di bantaran atau aliran sungai seperti Winongo, Code atau Gajahwong. "Sungai Code kami pantau terus karena berkaitan dengan hulu di Sungai Boyong di lereng Merapi. Jika di sana hujan deras pasti di muara ada potensi luapan air dan kemungkinan pergeseran tanah berupa longsor ada," bebernya.

Darmanto mengungkapkan, berdasarkan prakiraan BMKG Stasiun Klimatologi Jogja, puncak musim hujan bakal berlangsung pada Februari dan berakhir pada April-Mei mendatang. Diprediksi pada dasarian kedua Februari, intensitas curah hujan diperkirakan bisa mencapai 100 mm per dasarian di seluruh wilayah DIJ. Oleh karena itu, kondisi tersebut membutuhkan kewaspadaan yang ekstra. 

Lulusan Hukum Universitas Widya Mataram itu menuturkan, area rawan banjir ada di Gondokusuman meliputi Kotabaru, Terban dan Baciro, serta Umbulharjo meliputi Warungboto, Pandeyan, Sorosutan, Giwangan. Sedangkan rawan longsor, ada di 12 titik yang tersebar di sejumlah kelurahan yakni Brontokusuman, Keparakan, Wirogunan, Tegalpanggung, Gowongan, Terban, Bener, Tegalrejo, Pakuncen, Wirobrajan, Notoprajan serta Patangpuluhan. "Baik titik rawan banjir dan longsor itu tergolong pada klasifikasi yang tinggi atau merah," tutur Darmanto.

Untuk mengantisipasinya, BPBD Kota Jogja memaksimalkan pembangunan dan pemeliharaan sejumlah talud yang sempat tertunda akibat pandemi Covid-19 karena recofusing anggaran. Selain itu, dilakukan kordinasi dengan Balai Besar Sungai dan DPUPKP Kota Jogja untuk pemetaan awal. Agar dapat diketahui talud mana yang butuh pemeliharaan dan mana yang butuh pembangunan. (rul).

Editor : Heru Pratomo
#kota jogja #bpbd #Kemantren #pergeseran tanah