RADAR MALIOBORO – Kasus meninggalnya bayi premature di Tasikmalaya dengan berat bayi 1,7kg yang menggemparkan publik karena diduga menjadi bahan konten newborn photoshoot yang dilakukan oleh sebuah klinik di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Berikut mengapa kelahiran premature lebih rentan dibandingkan kelahiran bayi usia normal.
Prematur merupakan proses persalinan yang terjadi secara tidak terencana Kelahiran prematur, kejadian di mana persalinan terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu dan dapat membawa dampak serius pada kesehatan bayi.
Pahami lebih lanjut mengenai faktor penyebab, gejala, diagnosis, pengobatan, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil.
Dalam kasus kelahiran prematur yang dialami meliputi serangkaian kejadian seperti ketuban yang pecah terlalu awal atau infeksi rahim selama kehamilan.
Akan tetapi, kelahiran premature dapat diprediksi apalagi dari kasus-kasus preeklampsia.
Di mana minggu-minggu terakhir kehamilan menjadi sangat krusial bagi pertumbuhan janin, dan bayi yang lahir prematur memerlukan perawatan khusus di rumah sakit.
Ada beberapa factor yang dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur contohnya riwayat kehamilan dengan bayi kembar, kelahiran prematur sebelumnya, atau adanya kelainan pada rahim atau plasenta.
Faktor-faktor ini perlu diwaspadai untuk mengurangi risiko persalinan prematur.
Mempertahankan berat badan ideal dan asupan gizi yang baik sebelum dan selama hamil dapat mengurangi risiko kelahiran prematur.
Pada ibu hamil dengan resiko tinggi, langkah-langkah pencegahan seperti pemberian hormon progesteron atau pemasangan cerclage serviks dapat dipertimbangkan.
Kelahiran prematur dapat menyebabkan komplikasi jangka pendek seperti komplikasi jantung, gangguan pernapasan, dan masalah kesehatan jangka panjang seperti kerusakan otak atau gangguan penglihatan.
Dengan penanganan dan perawatan yang tepat, bayi prematur memiliki peluang hidup yang baik. Perlu diingat kelahiran premature harus mendapatkan perawatan medis berkualitas.
Editor : Bahana.