BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mencatat hingga November 2023, ada sebanyak 134 penderita human immunodeficiency virus (HIV)/acquired immune deficiency syndrome (AIDS).
Untuk meningkatkan temuan penderita HIV/AIDS, Dinkes Bantul menggencarkan screening pada populasi yang berisiko.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinkes Bantul, Feranose Panjuantiningrum menyebut, jumlah tersebut turun dibandingkan tahun lalu. Meskipun jumlah screening meningkat.
Jumlah temuan HIV di 2022 mencapai 160 orang. Sementara temuan AIDS mencapai 52 orang dengan screening mencapai sekitar 17 ribu.
Sedangkan pada Januari hingga November 2023, jumlah temuan penderita HIV mencapai 97 orang dan temuan AIDS mencapai 37 orang.
Ia menyampaikan, Dinkes Bantul juga telah melakukan screening kepada beberapa populasi berisiko terpapar HIV/AIDS. Seperti, ibu hamil, penderita tuberculosis (TBC), dan penderita penyakit menular seksual (PMS).
"Kalau yang populasi kunci jelas sudah ada mobile visit secara rutin oleh puskesmas bersama dengan desa kalurahan setempat. Pada intinya lebih ke penguatan lintas komunitas untuk penentuan secara aktif melalui mobile visit,” kata Fera, sapannya, Minggu (3/12).
Saat ini, seluruh ibu hamil di Kabupaten Bantul menjalani screening HIV AIDS. Sementara masih ada beberapa penderita TBC yang akan menjalani screening dalam waktu dekat.
“Penderita TBC belum 100 persen di-screening, terutama anak-anak. Namun, sebagian besar sudah kami cek,” ujar Fera.
Menurutnya, bagi masyarakat yang reaktif terhadap HIV AIDS dapat melakukan pemeriksaan di setiap puskesmas yang ada di Kabupaten Bantul. Saat ini, diagnosa HIV/AIDS dapat dilakukan di setiap puskesmas.
Selain itu, Dinkes Bantul pada 2023 juga menambah jumlah layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) untuk pengidap HIV/AIDS di fasilitas kesehatan (faskes) setempat. Layanan PDP tersebut bertambah dari yang sebelumnya 16 faskes menjadi 27 faskes.
"Pada 2022 ada 16 faskes terdiri dari tiga rumah sakit dan 13 puskesmas. Sedangkan 2023 ada 27 faskes, terdiri dari enam rumah sakit dan 21 puskesmas," bebernya.
Fera mengatakan, layanan PDP tersebut tidak hanya memberikan pengobatan untuk pengidap HIV/AIDS saja. Namun juga layanan konseling pasangan dan anak pasien.
Nantinya, pasien yang terjaring screening dan hasil tesnya reaktif akan dirujuk ke PDP tersebut. “Baik di puskesmas maupun rumah sakit untuk selanjutnya diberi pengobatan,” imbuhnya.
Di sisi lain, Pemkab Bantul sendiri berencana menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) penanggulangan HIV/AIDS.
Langkah strategis itu akan tercantum dalam RAD yang di dalamnya ada pembagian peran organisasi perangkat derah sesuai tugasnya masing-masing.
"Kami adaptasikan dengan kebutuhan kita di Bantul. Insyaallah tahun depan (RAD) mudah-mudahan sudah keluar," jelas alumnus Fakultas Kedokteran UNS ini. (tyo)
Editor : Amin Surachmad