Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Melacak Rentetan Letusan Gunung Marapi: Sejarah Tragis Sejak 1830 dan 1979

Cici Jusnia • Senin, 4 Desember 2023 | 21:02 WIB
Gunung Marapi Sumbar
Gunung Marapi Sumbar

RADAR MALIOBORO - Gunung Marapi, salah satu gunung api aktif di Sumatera Barat, kembali menggelegar dengan erupsi dahsyat pada Senin (4/12/2023) sekitar pukul 08:22 WIB.

PVMBG melaporkan tinggi kolom letusan mencapai 800 meter di atas puncak gunung yang berdiri megah di ketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu tebal dengan warna kelabu hingga hitam menjulang ke arah barat daya, menciptakan visual menakutkan bagi penduduk di sekitar dan memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan.

Erupsi ini telah menelan korban jiwa, dengan laporan dari Kepala SAR Padang Abdul Malik yang menyatakan bahwa 11 pendaki dinyatakan meninggal dunia akibat peristiwa tersebut.

Proses pencarian masih berlangsung intensif untuk menemukan 12 orang lain yang belum ditemukan.

Peningkatan Aktivitas dan Ancaman Vulkanik

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Gunung Marapi telah menunjukkan gejala peningkatan aktivitas vulkanik sejak awal tahun.

Meskipun statusnya telah ditetapkan pada level II (Waspada), PVMBG secara konsisten mengingatkan bahwa erupsi bersifat eksplosif dapat terjadi kapan saja, mirip dengan yang terjadi sehari sebelumnya.

BNPB merekomendasikan kepada masyarakat di sekitar Gunung Marapi agar tetap waspada dan tidak melakukan kegiatan di radius 3 km dari kawah/puncak gunung.

Selain itu, mereka juga menyarankan penggunaan masker saat keluar rumah untuk melindungi diri dari dampak abu vulkanik serta mengamankan pasokan air bersih dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang tebal.

Rentetan Erupsi Gunung Marapi

Gunung Marapi telah mencatat sejarah erupsi yang cukup serius sepanjang waktu.

Sebelumnya, pada tahun 1830, 1979, dan rentetan erupsi dari akhir 2011 hingga awal 2014, gunung ini telah menunjukkan peningkatan aktivitasnya melalui letusan yang mengeluarkan abu dan material vulkanik ke wilayah sekitar.

Baca Juga: Mau Staycation Akhir Tahun di Jogja? Ini Dia Rekomendasi Villa Di Jogja, Cocok Untuk Liburan Bareng Keluarga dan Kerabat!!

Berdasarkan laporan BNPB, tercatat bahwa pada 8 September 1830, gunung ini meletus dengan mengeluarkan awan abu-abu kehitaman berbentuk kembang kol setinggi 1.500 meter di atas kawahnya, disertai dengan gemuruh.

Pada tanggal 30 April 1979, terdapat laporan pers yang menyebutkan bahwa 60 orang meninggal dunia akibat letusan Gunung Marapi, sementara 19 orang pekerja penyelamat terperangkap oleh tanah longsor.

Selanjutnya, dari akhir tahun 2011 hingga awal tahun 2014, Gunung Marapi menunjukkan peningkatan aktivitas dengan letusan yang mengeluarkan abu dan awan hitam.

Pada akhir tahun 2011, abu bahkan terbawa angin hingga mencapai Kabupaten Padang Pariaman.

Pada tanggal 26 Februari 2014, terjadi letusan Gunung Marapi pukul 16.15 WIB, melepaskan material ke wilayah Kabupaten Agam dan Tanahdatar.

Kemudian, pada tanggal 7 Januari 2023, terjadi erupsi Gunung Marapi pada pukul 06.11 WIB.

Saat erupsi tersebut, beberapa pendaki diketahui masih berkemah di sekitar gunung, meskipun sebelumnya telah diberikan imbauan kepada masyarakat, wisatawan, dan pendaki untuk tidak mencapai puncak gunung.

Sebelum erupsi terakhirnya, pada Januari 2023, pihak berwenang telah memberikan imbauan kepada masyarakat, wisatawan, dan pendaki untuk tidak mendekati puncak gunung.

Namun, terdapat laporan bahwa sejumlah pendaki masih berada di sekitar gunung saat erupsi terjadi.

Peristiwa Gunung Marapi yang terus menunjukkan aktivitas vulkaniknya yang meningkat telah menjadi perhatian utama bagi otoritas setempat dan BNPB untuk memberikan peringatan dan imbauan kepada masyarakat agar selalu mematuhi arahan dari pemerintah daerah demi keselamatan bersama.

Editor : Bahana.
#gunung marapi sumatera barat #gunung marapi erupsi #gunung marapi