Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Imunisasi Virus Japanese Enchepalitis di Bantul Digelar Oktober 2024, Dinkes Bantul Tunggu Arahan Kemenkes

Gregorius Bramantyo • Selasa, 5 Desember 2023 | 02:15 WIB
CEPAT: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Agus Tri Widiyantara. (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)
CEPAT: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Agus Tri Widiyantara. (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)

 
BANTUL – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul tengah menunggu kebijakan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam pelaksanaan imunisasi massal virus Japanese enchepalitis (JE).
 
Upaya pemberian imunisasi tersebut dilakukan untuk mencegah penyebaran virus penyebab radang otak tersebut menyerang manusia melalui gigitan nyamuk culex.
 
Imunisasi tersebut dilaksanakan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1462/2023 Tentang Pemberian Imunisasi Japanese Encephalitis (JE) di Kab/Kota Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi D.I Yogyakarta pada Tahun 2023-2024. 
 
 
Kepala Dinkes Bantul Agus Tri Widiyantara mengatakan, rencananya imunisasi JE yang diperuntukkan bagi bayi usia sembilan bulan akan diberlakukan di Kabupaten Bantul pada Oktober 2024.
 
"Ada rencana di tahun depan ada imunisasi JE. Kami menunggu kebijakan dari pusat, cukup lama sekitar Oktober 2024 ketersediaan vaksinnya,” katanya, Senin (4/12).
 
Ia menjelaskan, prosedur yang dilakukan yakni identifikasi calon penerima vaksinasi dengan kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Sementara pertimbangan wilayah Kabupaten Bantul menjadi sasaran imunisasi JE lantaran nyamuk culex yang membawa virus ini memiliki populasi di beberapa daerah di Bantul.
 
"Nyamuk itu banyak berkembang di genangan air, tidak seperti aedes aegypti di genangan air yang bersih. Kalau nyamuk ini (culex) tidak harus air bersih, di genangan kotor juga banyak," ujarnya.
 
Sebelumnya, Dinkes Bantul juga telah memeriksa 10 anak dengan usia di bawah 10 tahun yang diduga terjangkit virus JE.
 
 
Namun, dari pemeriksaan yang telah dilakukan, tidak ditemukan pasien positif JE. “Yang usia bayi sepertinya tidak ada,” imbuhnya.
 
Meski begitu, ia menyampaikan, pihaknya tetap berusaha untuk mencegah terjadinya kasus JE.
 
Ia menjelaskan, JE sendiri merupakan penyakit radang otak akibat virus dari gigitan nyamuk culex yang terinfeksi virus JE. Sehingga menyebabkan penyakit radang otak pada manusia.
 
"Jadi, nyamuk itu beda dengan nyamuk aedes aegypti yang dapat menyebabkan penyakit demam berdarah pada manusia," jelasnya.
 
 
Pihaknya juga menggencarkan edukasi mengenai gejala kasus JE dan antisipasinya. Agar nantiya masyarakat tidak panik dan pasien dapat segera terselamatkan.
 
Agus menjelaskan gejala-gejala terinfeksi virus JE adalah gejala seperti biasa. Yakni penyakit infeksi sistemik. “Ada panas, kemudian tidak enak di badan. Tapi, (gejala) kejang juga lebih dominan," ucapnya.
 
Dinkes Bantul juga terus melakukan deteksi dini. Apabila ada kasus dengan gejala-gejala yang menuju ke arah JE. Untuk kemudian akan dilakukan penanganan lebih lanjut.
 
"Jadi jangan sampai nanti ada orang yang sudah terlanjur (terpapar kasus JE) menjadi lebih berat," sambung Agus.
 
Tidak hanya itu saja, imbauan kepada masyarakat terkait pemberantasan sarang nyamuk juga turut dilakukan oleh jajaran Dinkes Bantul.
 
“Tentunya kegiatan-kegiatan pemberantasan sarang nyamuk juga kami lakukan agar perkembangbiakan nyamuk culex tidak cukup besar di Kabupaten Bantul," tandas Agus. (tyo)
 
 
Editor : Amin Surachmad
#kemenkes #Japanese Encephalitis #dinkes Bantul