BANTUL – Dinas Pariwisata (Dinpar) Kabupaten Bantul mencatat keberadaan homestay di Kabupaten Bantul saat ini belum merata. Padahal, Bantul memiliki banyak destinasi wisata. Namun, jumlah akomodasi penginapan masih terbatas.
Kepala Dinpar Bantul Kwintarto Heru Prabowo mengatakan, homestay di Bantul, khususnya di lokasi desa wisata, sebarannya belum merata.
Di Tembi yang terdaftar ada 63 homestay. Sedangkan di Mangunan ada 32 homestay. Kemudian di Wukirsari baru ada 17 homestay.
Saat ini tercatat ada 306 homestay di Bantul dengan kapasitas sebanyak 1.051 kamar.
Baca Juga: MTs Negeri 1 Kebumen Ingin Cetak Lulusan yang Berkarakter dan Kompetitif di Era Global
Secara kuratif, 60 persen dari jumlah homestay tersebut layak untuk dikunjungi secara internasional. Ada kurang lebih 700 kamar yang cukup layak dari aspek kebersihan.
Menurutnya, syarat utama dari homestay adalah soal kebersihan. Sementara untuk fasilitasnya sendiri tak perlu yang mahal.
“Harus bersih, tidak berbau, tidak becek, dan tidak ada binatang seperti lalat, tikus, dan kecoa. Insyaallah 60 sampai 70 persen arahnya sudah ke sana,” ujarnya, Selasa (5/12).
Pihaknya juga mendorong adanya peningkatan jumlah homestay. Sebab, di Kabupaten Bantul saat ini masih minim akomodasi, terutama hotel. Sehingga mau tidak mau Dinpar Bantul mengarahkannya ke pengembangan homestay.
“Kelasnya kami tingkatkan,” imbuhnya.
Baca Juga: MaGIS Direnovasi, PSS Sleman Bidik SSA dan Stadion Manahan sebagai Kandang
Dari segi okupansi, sebaran homestay di Bantul juga belum merata. Untuk homestay tertentu seperti di Tembi dan Mangunan okupansinya bagus. Namun, sebagian besar tingkat okupansinya masih di bawah 40 persen.
Selain itu, juga ada homestay yang hanya laku tiga hingga lima kali dalam sebulan. “Tapi ada juga homestay yang lakunya sudah di atas 15 kali dalam satu bulan. Harapannya nanti lebih banyak wisatawan yang menginap di homestay,” kata mantan Panewu Sewon ini.
Ia pun mendorong wisatawan untuk menginap di homestay agar mendapatkan pengalaman sosial dan budaya. Melalui interaksi dengan masyarakat sekitar. Hal ini sesuai dengan pengembangan aspek pariwisata berbasis budaya Bantul Bumi Mataram.
Baca Juga: Kontestan MasterChef Indonesia Season 7, Dava, Meninggal Dunia Secara Mendadak - Warganet Terkejut!
Kwintarto menjelaskan, saat ini memang belum banyak homestay di Bantul yang tersertifikasi. Baru ada 100 homestay yang mengikuti program sertifikasi. Sementara program sertifikasi tersebut biasanya digelar oleh kementerian atau Dinas Pariwisata DIY.
Dinpar Bantul sendiri jika melakukan sertifikasi akan menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK).
“Sehingga tidak bisa dipastikan setiap tahun akan ada sertifikasi homestay. Tapi ketika ada pasti kami lakukan,” ucapnya.
Sementara itu, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bantul mencatat sejauh ini baru ada empat homestay di Bantul yang memiliki nomor induk berusaha (NIB). Keempat homestay tersebut berada di wilayah Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan.
Untuk tergabung di PHRI, homestay harus memiliki NIB. “Sedangkan rata-rata homestay yang saya ketahui, belum memiliki legalitas untuk NIB,” ujar Ketua PHRI Bantul Yohanes Hendra.
PHRI Bantul sendiri mendorong agar homestay di Bantul memiliki sebuah standar. Baik standar secara tata kelola dan manajemen sebuah akomodasi penginapan, seperti manajerialnya dan sumber daya manusianya.
Baca Juga: Asyik, Kebumen Sekarang Punya Bus Trans seperti di Jogja
Sedangkan di PHRI Bantul selalu ada pelatihan atau sertifikasi kompetensi untuk manajemen maupun sumber daya manusia yang ada. Baik melalui sertifikasi atau pelatihan.
“Otomatis bagi anggota kami yang memang secara aktif menjadi anggota PHRI kami prioritaskan untuk mendapatkan pelatihan dan sertifikasi dengan cuma-cuma,” kata Hendra. (tyo)