JOGJA - Kota Jogja mulai memasuki musim penghujan. Beberapa kali hujan mengguyur sejumlah titiknya dengan rentang waktu yang cukup lama.
Kondisi tersebut membuat warga yang tinggal di bantaran sungai rentan terhadap bencana alam kala musim hujan tiba.
Tidak sedikit warga Kota Jogja yang tinggal di bantaran Sungai Gajahwong, Sungai Code, dan Sungai Winongo.
Ketiga sungai itu menjadi aliran air yang membelah tengah kota. Sejumlah potensi bencana alam rentan terjadi seperti tanggul yang ambles ataupun banjir.
Oleh karena itu, BPBD Kota Jogja meminta warga tetap waspada karena intensitas hujan akan terus ada setiap harinya.
Ketua Tim Kerja Data Informasi Komunikasi Kebencanaan BPBD Kota Jogja Darmanto menghimbau, warga yang tinggal di bantaran sungai selalu waspada.
Dia meminta agar selalu memantau water level atau ketinggian permukaan air dan imbauan BPBD melalui early warning system (EWS).
EWS biasa dikenal sebagai alat peringatan dini terhadap tanda-tanda kebencanaan yang mungkin akan terjadi.
"Memperhatikan kondisi sekitar rumah tempat tinggal terhadap potensi bahaya longsor atau tanah amblas atau pohon tumbang," katanya, Selasa (5/12/2023).
Menurutnya, saat ini EWS sudah dipasang pada 17 titik berbeda. Terdiri dari Sungai Winongo lima titik, Gajahwong lima titik, dan Code ada tujuh titik.
Secara teknis, EWS akan memberikan peringatan dini terhadap berbagai ancaman bencana alam untuk warga Kota Jogja.
Darmanto membeberkan, EWS mendapat informasi dari Pusdalops BPBD Kota Jogja yang sebelumnya mendapat peringatan dari posko satu di Sungai Boyong, Ngentak.
"Pusdalops akan memberikan himbauan serta sirine melalui EWS," tambahnya.
Ketika sudah diinformasikan, kampung tanggap bencana (KTB) di sepanjang bantaran sungai akan melakukan persiapan.
Menurutnya, teknis penggunaan EWS itu sudah disimulasikan terlebih dahulu sehingga sudah siap dalam penerapannya.
Meski memilik alat yang cukup membantu, masyarakat tetap diminta tidak membuang sampah pada aliran sungai.
Darmanto menegaskan, apabila ada kejadian bencana dimohon segera melaporkan ke Pusdalops BPBD Kota Jogja. Laporan yang masuk langsung dilakukan pengecekan atau asessment dari TRC Kota Jogja.
Meski begitu, Darmanto mengungkapkan, selama ini bantaran sungai Kota Jogja terbilang masih aman dari bencana banjir atau tanah longsor.
Menurutnya, yang pernah terjadi banjir malah karena lahar dingin dari erupsi Merapi 2010 lalu. Hal itu disebabkan pasir yang begitu banyak membuat airnya menjadi terangkat meninggi. Setelahnya, tidak ada banjir karena luapan yang terjadi di bantaran sungai.
Darmanto mengaku, saat musim penghujan seperti ini malah yang sering terjadi pohon tumbang yang menimpa bangunan. Peristiwa itu terjadi karena hujan yang berpadu dengan angin kencang.
"Kalau efek dari sungainya, malah tidak ada efek," ucapnya.
Sedangkan untuk tanah longsor atau ambles di bantaran sungai Kota Jogja memang sempat terjadi beberapa kali.
Menurut Darmanto, peristiwa itu terjadi di permukiman warga yang tidak semestinya ditinggali.
"Di daerah-daerah seperti itu rawan tanah ambles bukan longsor yang seperti dibayangkan," tuturnya. (rul)
Editor : Amin Surachmad