RADAR MALIOBORO - Banner berupa poster lukis film untuk mempromosikan penayangan film di era dulu, kini sudah tidak ditemukan lagi. Perkembangan teknologi, khususnya cetak, adalah faktor penyebab hilangnya eksistensi dari poster film lukisan. Perjalanan proses peralihan banner lukis manual menuju banner cetak, menjadi memori yang setiap tahun diamati seorang pengamat desain komunikasi visual (DKV) Alex Pracaya.
Selain menjadi pengamat desain komunikasi visual khususnya konsep desain jadul, ia juga seorang kolektor berbagai macam kemasan teh. Ada juga tiket bioskop, rokok, dan poster bioskop jadul.
"Saya dari dulu suka koleksi. Memang tidak spesifik pada barang apa, tapi saya lebih ke desain visualnya. Jika ada yang menarik, ya saya beli," ujar Alex.
Di era dulu, banyak produsen perfilman menggunakan desain visual seperti poster dan banner manual untuk mempromosikan filmnya. Dalam banner atau poster lukis itu memuat poster film dan waktu tayang.
"Untuk promosi, sekitar tahun 80-an desain visual kebanyakan cenderung dimuat lewat cetak atau koran, karena memang multimedia atau video masih mahal," ungkapnya.
Poster film lukis dulu sangat banyak dipasang di jalan atau sudut strategis Jogja. Hampir setiap ada film yang tayang, pasti terdapat informasi melalui poster lukis itu.
"Mungkin terakhir sekitar tahun 2006 masih bisa ditemukan, walaupun sedikit sebelum tergerus oleh media sosial online seperti saat ini," tuturnya.
Jalur untuk promosi film baru zaman dahulu melalui beberapa cara. Selain lewat banner atau poster dan iklan di koran, film juga dipromosikan lewat leaflet atau pamflet secara langsung ke ruang-ruang publik.
"Kita juga menantikan hadirnya poster/banner itu. Biasanya kalau kita lihat film di bioskop, banner lukis itu sudah ada, dipajang di area bioskop untuk tayangan film selanjutnya. Nah, kadang kita tahu informasinya dari situ. Kalau sekarang kan tinggal liat HP sudah ada semua," tambahnya.
Dulu bahkan ada pelukis spesialis banner film tersebut. Kalau sekarang semacam billboard. Pelukis itu tergabung dalam komunitas bernama Seniman Merdeka. "Seniman Merdeka itu kelompok seniman Jogja yang rata-rata (anggotanya) dari jurusan seni lukis murni. Dulu banyak karyanya, membuat baliho seperti di Titik Nol Km Jogja," bebernya.
Ia menilai, poster lukis manual itu menjadi daya tarik tersendiri. Di samping unik, karena memang dulu belum ada yang cetak mesin sebesar itu.
"Seiring perkembangan zaman, mulai muncul flexy dan alat cetak macam-macam. Biayanya memang lebih murah, tapi kan juga mematikan seniman-seniman yang bergerak dalam bidang itu," tuturnya.
Teknis produksi banner itu tetep dari desainer awal, yaitu dari pihak produser film. Para seniman lalu membuat desain seperti yang diberikan.
"Dulu sekitar tahun 1990-an waktu saya kerja di perusahaan advertising Davinci, saya masih bikin desain untuk lukis banner tersebut," tambahnya.
Faktor yang paling mempengaruhi hilangnya banner lukis film itu adalah perkembangan teknologi, khususnya cetak. Fenomena banner itu perlahan hilang. "Dulu dari lukis kuas, lalu beralih ke air brush dan sekarang sudah hilang, kalah dengan cetak," tandasnya.
Teknologi memang selalu berevolusi. Artinya setiap masa pasti ada penanda atau trend yang berkembang. Contohnya banner lukis itu. Dulu pada periode masa jayanya banyak sekali ditemukan, sekarang sudah hilang.
"Subjektifitas saya dalam menanggapi fenomena itu adalah harus tetap ikut harus tanpa meninggalkan yang lama. Saya kalau berkarya sekarang pakai teknologi, tapi tetap gambaran desain era dulu menjadi konsep desain dan referensi," katanya.
Dikatakan, seniman jangan sampai kalah dengan teknologi saat ini seperti artificial intelegen (AI). Gaya dan konsep karya tangan seorang manusia menjadi ciri khas yang khusus untuk membedakan dengan produk AI. (cr5/laz)