RADAR MALIOBORO - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul terus berupaya melakukan regenerasi nelayan untuk meningkatkan produksi perikanan tangkap. Sebab setiap tahun, nelayan di Bantul berkurang sebanyak lima hingga 15 orang.
Sub Koordinator Kelompok Substansi Perikanan Tangkap dan Pemberdayaan Nelayan DKP Bantul Pramahdiansyah mengatakan, berkurangnya nelayan mayoritas disebabkan karena meninggal, pindah, dan alih profesi seperti menjadi tukang parkir atau pedagang. “Kalau penambahan lebih sedikit, rata-rata per tahun hanya dua sampai lima orang,” ujar Pram, sapaannya kemarin (14/1).
Guna melancarkan regenerasi nelayan, DKP Bantul melakukan pelatihan dengan memfasilitasi 12 peserta tahun lalu. Kegiatan itu menggunakan dana keistimewaan (Danais) yang memfasilitasi 12 peserta didampingi 12 tekong dan anak buah kapal (ABK). “Magang teori dua hari, lalu praktik 60 kali melaut. Diikutkan ke 12 perahu yang berisi nelayan senior,” jelas Pram.
Dia mengungkapkan, usai pelatihan tersebut, pihaknya saat ini masih memantau 10 nelayan muda yang masih lanjut melaut. Sebab ada beberapa nelayan muda yang terpaksa mundur karena tidak diperbolehkan oleh keluarganya. “Nelayan itu persoalan budaya, anaknya semangat tapi simbahe wedi. Padahal kami cover dengan BPJS lengkap. Alat pelindung diri juga sudah memenuhi standar,” ucapnya.
Menurutnya, regenerasi nelayan memerlukan proses yang panjang. Sebab nelayan muda yang diberi pelatihan pada tahun ini, belum tentu akan konsisten melaut di tahun depan. “Kemungkinan dia tidak menjadi nelayan cukup banyak, karena menikah lalu istrinya melarang. Kemungkinan dia untuk tidak jadi nelayan cukup besar meskipun sudah dilatih,” kata Pram.
Saat ini, lanjutnya, jumlah nelayan laut di Bantul sekitar 381 orang. Sementara jumlah nelayan sungai berjumlah 717 orang. Jumah tersebut merupakan data yang didapat DKP Bantul pada 2023, dengan rata-rata berusia 30-65 tahun.
“Belum kami rilis angka terbarunya, tapi ada sekitar 1.200 nelayan laut dan darat. Perlu verifikasi lanjut dengan penyuluh di lapangan,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Usaha Bersama (KUB) Mina Samudra Pantai Samas Tri Jarwanto mengatakan, profesi nelayan memang kurang diminati. Penyebabnya karena ombak di pantai selatan terkenal cukup tinggi dan besar. Sehingga hal itu cukup menghambat regenerasi nelayan. “Sebelum melaut sudah takut dulu. Tapi kami berusaha merekrut nelayan baru itu,” ujarnya.
Selain itu, banyak juga yang percaya dengan mitos terkait ombak di pantai selatan. Sehingga banyak orang tua yang melarang anaknya untuk terjun menjadi nelayan. “Di Pantai Samas sendiri kami mengajari yang muda dengan menjadi ABK dulu. Ada beberapa yang sekarang sudah menjadi nakhoda atau tekong,” ungkap Tri. (tyo/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova