Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Olah 19 Ton Kantong Plastik Kemasan, Sudah 4,5 Ton Dijual ke Pabrik Daur Ulang 

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 21 Januari 2024 | 18:59 WIB
PENANGANAN: Petugas membersihkan sampah yang ditinggalkan wisatawan di Pantai Parangtritis.
PENANGANAN: Petugas membersihkan sampah yang ditinggalkan wisatawan di Pantai Parangtritis.

 

RADAR MALIOBORO - Kantong plastik kemasan menjadi sampah residu yang tak diminati. Supaya tak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, Bank Sampah Induk (BSI) Kota Jogja yang akan menampungnya.

 

Sejak dibentuk pada 10 Oktober 2023 BSI Kota Jogja bertugas membawahi atau melakukan monitoring 666 Bank Sampah yang tersebar di Kota Jogja. Meski dari total 666 bank sampah di Kota Jogja yang menjadi member BSI saat ini baru 49. 

 

Salah satu pelayanan BSI adalah mau mengambil jenis sampah residu plastik kemasan dan sejenisnya. Kebanyakan tukang rosok tidak mau membeli sampah berupa kantong-kantong plastik kemasan. 

"Nah di BSI mau mengambil sampah kemasan tersebut, yang terpenting kondisinya bersih dan kering," ujar Wakil Ketua Forum Bank Sampah Kota Jogja, Sri Martini kepada Radar Jogja, Rabu (17/1).

 

Sampah jenis kemasan plastik tersebut nantinya akan dilakukan pemilahan lanjutan di BSI. Setelah itu akan dijual ke Pabrik Daur Ulang (PDU). Total pengumpulan jenis sampah tersebut kurang lebih telah terkumpul 19 ton. 

 

"Kami baru bisa menjual sejumlah 4,5 ton ke PDU. Untuk harganya variatif karena dilihat dari jenis bahanya," bebernya. 

 

BSI juga melakukan pendampingan di Bank Sampah yang tidak sehat. Sebanyak 192 Bank Sampah dalam kondisi tidak sehat, sehingga perlu dilakukan pendampingan. 

"Ada yang mati suri, lalu nasabah bank nya masih sedikit dibawah 20, tidak berkembang dan lainya," tuturnya. 

 

Dari BSI dan Forum Bank Sampah Kota mempunyai program berupa klinik bank sampah yang bertugas untuk menyehatkan Bank Sampah. Selain itu, pendampingan juga akan dilakukan disejumlah bank sampah tersebut. 

 

"Setelah dilakukan pendampingan, bank sampah yang tadinya mati langsung segera melakukan operasional lagi," jelasnya. 

 

Sementara itu, Pokja Edukasi Forum Bank Sampah Kota Jogja, Iswadi menambahkan fokus BSI pada bulan ini adalah melakukan pendampingan Bank Sampah di Kelurahan Terban. Di Kelurahan tersebut terdapat total 12 Bank Sampah. 

 

"Dari ke 12 Bank Sampah sebanyak 10 diantaranya dalam kategori kurang sehat," tandasnya. 

 

Kebanyakan bank sampah yang mati suri tersebut penyebabnya dimulai sewaktu Pandemi covid-19. Pembatasan aktivitas saat Pandemi tersebut dinilai membuat aktivitas di Bank Sampah ikut berhenti. 

"Jadi karena terlalu lama, ingi memulai kembali sepertinya pengelolanya mager," kelakarnya.

 

"Selain itu, harga sampah/rosok saat ini sedang kurang bagus," imbuhnya. 

 

Beberapa kendala dialami oleh tim BSI dalam melakukan pendampingan di Bank Sampah. Kendala tersebut diantaranya adalah kemauan dan antusias pengelola di Bank Sampah itu sendiri. 

 

"Sebenarnya kalau mereka sering dikaruhke itu mereka jadi semangat. Contohnya di Kelurahan Terban, karena kurang perhatian (pengampu wilayahnya) jadi mati suri," tandasnya. (cr5/pra)

Editor : Heru Pratomo
#kota jogja #Bank Sampah Induk