JOGJA - Peringatan 12 Tahun Undang-Undang Keistimewaan DIY menjadi momentum introspeksi menyangkut apa saja yang sudah dijalani. Waktu 12 tahun dinilai memberikan pondasi kuat menuju tercapainya tujuan keistimewaan ke level yang lebih tinggi. “Mewujudkan kemulian dan kejayaan Keistimewaan DIY sebagaimana dicita-citakan para leluhur bumi Mataram,” ujar Paniradya Pati Kaistimewan DIY Aris Eko Nugroho kemarin (30/8).
Dikatakan, angka 12 akrab di kehidupan masyarakat. Angka 1 dalam bahasa Jawa bisa diartikan sebagai manunggal. Bermakna menyatu sehingga tidak dapat dipisahkan. Sedangkan angka 2 dapat diartikan sebagai dwi yang berarti keseimbangan. Keseimbangan memiliki arti jumlah yang tepat. Mengarah pada keselarasan atau kemerataan. Angka 2 dapat pula diartikan sebagai dua prioritas
“Sebelas kebijakan strategis gubernur dan dua belas peta jalan grand desain Keistimewaan DIY. Ini menjadi dasar mewujudkan tujuan keistimewaan yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat,” terang Aris.
Puncak Gebyar Keistimewaan Peringatan 12 Tahun UU Keistimewaan DIY digelar di lapangan Minggiran, Mantrijeron, Yogyakarta. Acara berlangsung selama dua hari. Dimulai Jumat (30/8) kemarin hingga Sabtu (31/8) malam ini. Kegiatan bertema Andakara Kerta Raharja diadakan Paniradya Kaistimewan DIY bekerja sama dengan elemen masyarakat seperti Sekber Keistimewaan DIY.
Senada, Ketua Sekber Keistimewaan Widihasto Wasana Putra mengatakan, setelah UU No. 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY disahkan, perjuangan yang dilakukan Sekber Keistimewaan memperkuat implementasi keistimewaan.
“Simpul jaringan rakyat kami dorong untuk berpartisipasi dalam proses pelaksanaan. Mulai dari padukuhan hingga provinsi, semuanya ikut berpartisipasi," ujar Hasto, sapaan akrabnya.
Kegiatan simpul jaringan Sekber Keistimewaan di antaranya untuk memperkuat keberadaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Salah satunya, dengan program sinau sejarah. Dalam tiga tahun terakhir, simpul jaringan Sekber Keistimewaan aktif menggelar program sinau sejarah di sejumlah SMA/SMK se-DIY.
Edukasi sejarah terkait kepindahan ibu kota republik, Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 dan Amanat 5 September 1945 yang dikeluarkan Sultan Hamengku Buwono IX dan KGPAA Paku Alam VIII.
Peringatan sejarah yang lekat dengan kesejahteraan DIY tersebut dinilai penting . Sebab, porsi wawasan kesejarahan DIY generasi muda relatif kurang. "Ada sekitar 15-20 SMA se DIY yang dilaksanakan program jemput bola untuk sinau sejarah itu," tandasnya.
Dalam kegiatan itu dijalin kerja sama dengan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI). Juga dengan sejarawan dengan cara membuat podcast dan film dokumenter sebagai media belajar generasi muda.
Selain itu, Sekber Keistimewaan juga menginisiasi adanya festival bregada yang rutin diselenggarakan dari 2013. Menurutnya, bregada merupakan pilar gerakan massa. Terbukti, saat ini keberadaan bregada eksis di setiap kampung atau desa di seluruh DIY. Ia menilai adanya kelompok bregada akan berimbas pada UMKM. Khususnya kerajinan tangan dan busana. Bregada membutuhkan seragam yang dipesan dari para pelaku UMKM.
"Baik busana maupun askesoris bregada pasti ada dampaknya bagi pelaku UMKM," ungkap alumnus Fisipol Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini. (oso/kus)
Promosikan Desa Prima, Danais Berdayakan Perempuan
Gebyar Keistimewaan 12 Tahun UUK juga dimeriahkan dengan kehadiran pameran sejumlah stan Desa Prima. Seperti diketahui, Desa Prima merupakan akronim dari Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri Prima. Disingkat Desa Prima. Ada ratusan Desa Prima se-DIY.
Desa Prima merupakan salah satu program pemberdayaan perempuan. Mereka mayoriyas single parent. Ada juga keluarganya yang mengalami gangguan jiwa dan sebagainya. "Jadi antara prima, preuneur dan pemberdayaan UMKM semuanya hampir sama. Namun, perbedaanya terkait dengan sasarannya," ujar Paniradya Pati Kaistimewan DIY Aris Eko Nugroho.
Menurut dia, dalam kondisi tersebut, perempuan biasanya menjadi tulang punggung keluarga. Mereka menjadi andalan keluarganya. Aktivitas di dalam Desa Prima di antaranya musyawarah untuk menentukan potensi-potensinya. Selanjutnya, dilakukan proses pembinaan terkait potensi yang dimiliki dan bisa diberdayakan.
"Beberapa desa ada yang sudah membuat semacam showroom berkaitan dengan Desa Prima," tuturnya.
Setelah sukses dalam taraf desa Prima, Aris berharap bisa lanjut dan bergabung ke dalam Desa Preuner yang dibina oleh Dinas Koperasi dan UKM DIY. Para pelaku UMKM bisa mengakses bimbingan untuk mengurus PIRT, izin halal, pendampingan pemasaran, dan edukasi lainnya.
Beberapa produk UMKM Desa Prima yang berhasil naik kelas seperti Bolu Kelapa dari Putat, Patuk, Gunungkidul. Omzetnyat saat ini bisa mencapai Rp 200 juta per bulan. "Kemarin kami tawarkan ke anggota Fordasi 2024, langsung dapat pesanan ribuan karena harganya relatif murah," jelasnya.
Produk lain dari Desa Prima yang dinilai potensial naik kelas antara Srimi, singkatan dari Sriharjo Mi. Srimi merupakan produk mi kemasan asal Kalurahan Sriharjo, Imogiri, Bantul. Kali pertama diluncurkan 2023 lalu.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindunggan Anak, dan Pengendalian Penduduk (P3AP2) DIY Erlina Hidayati Sumardi mengatakan, produk yang dipamerkan dalam Gebyar Keistimewaan 2024 ini mewakili seluruh kabupaten/kota se DIY. Kebanyakan merupakan produk kuliner.
Tentang kriteria anggota dan pengurus Desa Prima adalah kelompok perempuan rentan miskin. Di antaranya, kepala keluarga perempuan baik yang suaminya meninggal atau cerai, disabilitas perempuan dan perempuan ekswarga binaan lapas. Kemudian perempuan dengan anggota keluarga ODGJ, dan perempuan penyintas kekerasan klien Dinas P3AP2 DIY.
Dalam kesempatan itu, Erlina menginformasikan, dana keistimewaan membiayai dan memfasilitasi, membina serta membantu mengembangkan produk ibu-ibu kelompok rentan yang dibina di desa-desa. Dia ingin kelompok binaan Desa Prima bisa semakin luas. Masyarakat dapat mengetahui dana keistimewaan digunakan untuk pemberdayaan perempuan berhasil meningkatkan kualitas hidup perempuan DIY. “Sebagian besar produk anggota binaan kami itu mempromosikan produknya melalui SiBakul Jogja,” jelasnya. (oso/kus)
Editor : Satria Pradika