Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Peringatan 12 Tahun UU Keistimewaan DIY Momen Tepat Perbarui Komitmen, Masyarakat Harus Rasakan Manfaatnya

Rizky Wahyu Arya Hutama • Minggu, 1 September 2024 | 05:40 WIB
KUATNYA TRADISI: Tari tradisional ikut menyemarakan kegiatan. Selain tari, senam, fun run, jatilan, ketoprak, dan pentas musik memeriahkan acara selama dua hari berturut-turut.
KUATNYA TRADISI: Tari tradisional ikut menyemarakan kegiatan. Selain tari, senam, fun run, jatilan, ketoprak, dan pentas musik memeriahkan acara selama dua hari berturut-turut.

RADAR JOGJA - Peringatan 12 Tahun UU Keistimewaan DIY Momen Tepat Perbarui Komitmen
Masyarakat Harus Rasakan Manfaatnya Gebyar Keistimewaan Peringatan 12 Tahun Undang-Undang No. 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY berakhir tadi malam. Acara yang dihelat dua hari berturut-turut pada Jumat (30/8) dan Sabtu (31/8) harus terus diselenggarakan dengan semangat kolaborasi yang lebih luas.


“Kesampingan ego sektoral demi kepentingan bersama. Sinergi dapat diterapkan pada program-program keistimewaan lainnya. Sehingga manfaatnya dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat,” pinta Gubernur DIY Hamengku Buwono X dalam sambutan tertulis yang dibacakan Pelaksana Harian (Plh) Assekda Sumber Daya Pemberdayaan Masyarakat Setda DIY Aris Eko Nugroho di acara Gebyar Keistimewaan Peringatan 12 Tahun UUK DIY di lapangan Minggiran, Mantrijeron, Yogyakarta, tadi malam.


Gubernur mengingatkan, demi memastikan keistimewaan bermanfaat nyata bagi masyarakat, ada lima tujuan utama yang harus dilakukan. Meliputi tata kelola pemerintahan yang baik, pelestarian budaya, pemanfaatan tanah kasultanan dan kadipaten, pengembangan pendidikan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
HB X mengamati, selama 12 tahun banyak capaian yang telah diraih. Misalnya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DIY terus meningkat. Tahun 2023 mencapai angka 81,8, salah satu yang tertinggi di Indonesia.


“ Itu bukan sekadar angka, tapi cerminan kerja keras dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera dan berdaya saing," kata raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut.
Di bidang pelestarian budaya, DIY menunjukkan komitmen kuat melalui berbagai program. Di antaranya, seperti Festival Budaya Yogyakarta dan revitalisasi situs-situs bersejarah. Program pendidikan berbasis budaya lokal terus dikembangkan sebagai pilar penting pelestarian budaya. Bahkan, Sertifikat Warisan Dunia dari UNESCO, Sumbu Filosofi Yogyakarta (The Cosmological Axis of Yogyakarta and It’s Historic Landmarks) juga dapat diraih.


Selain itu, peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan yang inklusif dan partisipatif. Itu bertujuan merangkul semua elemen masyarakat agar aktif terlibat dalam pembangunan daerah.
Tak hanya itu saja, pemanfaatan tanah kasultanan dan kadipaten juga harus diarahkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, dengan tetap menjaga keadilan sosial dan kelestarian lingkungan. Sebab, tanah tersebut bukanlah sekadar sumber daya ekonomi saja, tetapi bagian dari identitas warga Yogyakarta.

"Dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, aspek pemerataan harus diperhatikan. Setiap warga DIY, dari kota hingga pelosok desa, harus merasakan manfaat keistimewaa agar tidak ada yang tertinggal dalam arus kemajuan," kutip Aris.


Momentum 12 Tahun UUK merupakan waktu yang tepat memperbaharui komitmen menjaga keistimewaan. Ke depan, semua bisa terus menjaga semangat gotong royong, kebersamaan, dan inovasi di setiap langkah yang diambil.


“Keistimewaan DIY akan terus terjaga, berkembang, dan memberikan manfaat, sebesar-besarnya bagi masyarakat Yogyakarta dan generasi mendatang" ingat HB X sebagaimana dibacakan Aris.
Selama dua hari agenda mulai Satriya Runner Fun Run, senam zumba aerobik, donor darah dan pemeriksaan kesehatan jiwa, pameran Desa Prima dan beberapa penampilan musik mewarnai hari pertama pelaksanaan Gebyar Keistimewaan pada Jumat (30/8).


Sedangkan hari berikutnya, Sabtu (31/8) dihiasi dengan workshop dan lomba miru jarik dan iket-iketan. Pameran Desa Prima, pameran sarana prasarana Keistimewaan dengan puncak acaranya dimeriahkan penampilan musik Fani Soegi.


Totalnya ada 487 kegiatan selama 30 hari dari 12 Agustus hingga 12 September 2024 yang digelar dalam rangka Gebyar Keistimewaan 12 Tahun UUK DIY. Acara tersebar di kabupaten/kota se-DIY dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.

BANGUN SINERGI: Plh Assekda Pemberdayaan Sumber Daya Masyarakat Setda DIY Aris Eko Nugroho memotong tumpeng dalam acara Gebyar Keistimewaan Peringatan 12 Tahun UUK di lapangan Minggiran.
BANGUN SINERGI: Plh Assekda Pemberdayaan Sumber Daya Masyarakat Setda DIY Aris Eko Nugroho memotong tumpeng dalam acara Gebyar Keistimewaan Peringatan 12 Tahun UUK di lapangan Minggiran.


"Perayaan ini bukan sebuah acara seremonial semata. Tapi perwujudan dari asa bangga dan cinta terhadap budaya serta identitas lokal," ujar Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Urusan Keistimewaan Paniradya Keistimewan DIY Tri Agus Nugroho saat menyampaikan laporan.

Agus menyatakan, mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi DIY yang sudah turun-temurun. Dari pameran di Hotel Mutiara, Gelar Budaya Jogja yang dilakukan kapanewon se-DIY, peringatan Hari Aksara Nasional, SiBakul Jogja Sport Fest 2024, hingga pelaksanaan Forum Desentrasilisasi Asimetris Indonesia (Fordasi) di Hotel Royal Ambarrukmo dari 27-29 Agustus lalu.
"Semuanya dirancang untuk menegaskan dan merayakan nilai-nilai yang terkandung dalam Undang-Undang Keistimewaan DIY," tegasnya.


Mengangkat tema “Andakara Kerta Raharja” mempunyai makna UUK DIY sebagai matahari. Senantiasa ikhlas tanpa pamrih memberikan sinarnya untuk dimanfaatkan seluruh masyarakat DIY. Kemakmuran dan sejahtera merupakan tujuan utama. Itu cerminan dari cita-cita kehidupan yang aman, damai, dan seimbang.


Gebyar Keistimewaan Peringatan 12 UUK menjadi wahana penyebarluasan informasi keistimewaan, menumbuhkan kecintaan, dan meningkatkan apresiasi generasi muda untuk turut serta menjaga Keistimewaan DIY.


Pembukaan rangkaian peringatan 12 UUK sudah dilaksanakan di Amphitheater Tonogoro, Banjaroyo, Kalibawang, Kulon Progo pada Minggu (11/8). Sedangkan penutupan dijadwalkan berlangsung di Alun-Alun Wates, Kulon Progo pada Kamis (12/9) mendatang. (ayu/kus)

Editor : Satria Pradika
#yogyakarta #Keistimewaan DIY #Paniradya #keistimewaan #diy