RADAR MALIOBORO - Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang berlimpah.
Maka dari itu, Indonesia mendapatkan julukan Heaven Of Earth atau surga bumi.
Dari Sabang sampai Merauke terdapat berbagai macam wisata alam yang melimpah, salah satunya Danau Habema.
Bagaimana pesona dari Keindahan Danau Habema? Yuk simak!
Danau ini terletak di kawasan Taman Nasional Lorentz, berada di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua.
Danau yang terletak di Kaki Gunung Trikora ini merupakan salah satu danau tertinggi di Indonesia dan terluas se-Asia Tenggara.
Terletak di ketinggian kurang lebih 3.225 meter di atas permukaan laut, menjadikan danau ini sebagai salah satu danau yang tertinggi di Indonesia.
Danau ini memiliki luas kurang lebih 224, 35 hektar dengan keliling 9,79, kilometer dan berada di zona inti Taman Nasional Lorentz Papua.
Rute Menuju Danau Habbema
Danau ini berjarak sekitar 48 Kilometer dari Kota Wamena, jika ingin menuju danau ini ternyata bukanlah perkara yang mudah.
Pengunjung harus melalui jalan yang terjal, serta kontur tanah yang berbukit-bukit membuat pengunjung yang ingin mengunjungi danau ini harus menggunakan kendaraan berpenggerak 4 roda.
Jika jalan rata , dengan menggunakan mobil biasa jarak 48 kilometer pastinya bisa dicapai dengan waktu yang relatif singkat, sekitar 1,5 sampai 2 jam saja.
Tapi, dikarenakan kondisi alam yang cukup ekstrim, maka jika pengunjung ingin menuju Danau Habbema menggunakan mobil dapat ditempuh dengan waktu hingga 3 jam.
Jika pengunjung ingin kesana, pengunjung akan disambut pemandangan hamparan bukit dengan pohon-pohon tinggi dan juga udara yang sejuk di sepanjang jalan.
Jam Buka, Tiket Masuk, dan Fasilitas Danau Habbema
Danau Habbema ini tidak memiliki jam operasional resmi, dan juga tidak dipungut biaya tiket masuk alias Gratis.
Namun bagi pengunjung yang ingin pergi kesana cukup menyiapkan dana transportasi dan guide.
Di Lokasi Danau sendiri belum ditemukan fasilitas yang sengaja dibangun untuk pengunjung, namun justru pengunjung bisa sepuasnya menikmati keheningan alam.
Apa Saja Daya Tarik Danau Habbema
1. Salah Satu Danau Tertinggi Di Indonesia
Danau ini menyandang gelar dan tercatat salah satu danau tertinggi yang ada di Indonesia, Danau ini terletak di ketinggian 3.225 meter di atas permukaan laut.
Dengan menyandang predikat tersebut, Danau ini sering disebut sebagai Danau Di Atas Awan.
Tidak hanya itu Danau Habbema ini menjadi dikeramatkan oleh sukun Dani.
Dan menjadi salah satu sumber utama bagi kesuburan ditanah Papua, khususnya di daerah kawasan sekitar Danau.
2. Puncak Trikora Atau Puncak Wihelmina
Daya tarik selanjutnya yang pengunjung bisa lihat adalah View atau pemandangan yang disajikan ditengah danau.
Panaroma yang disuguhkan berupa danau yang eksotis, dengan latar Puncak Trikora. Puncak Trikora ini merupakan salah satu gunung tertinggi yang ada di Indonesia.
Adapun nama lain dari Gunung Trikora ini adalah Puncak Wilhelmina, Danau Habbema ini terletak di Gunung Trikora, dengan demikian pengunjung akan disuguhkan keindahan Danau dan Gunung.
3. Pemandangan Sekitar Danau Habbema
Lokasi Danau Habbema ini menjadi bagian dari Taman Nasional Lorentz, jika pengunjung pergi kesana akan disuguhkan dengan pemandangan dengan keindahan yang menakjubkan.
Hal yang perlu untuk diingat yakni cuaca sekitar Danau habbema sangatlah dingin. Bahkan jika malam tiba suhu disekitar bisa mencapi 0 derajat celcius.
Maka disarankan untuk para wisatawan untuk menggunakan jaket dan pakaian hangat yang tebal, maka dari itu jarang sekali wisatawan yang berenang. sebab menghindari hipotermia.
4. Wisata Alam yang Berbalut Budaya Lokal
Di kawasan ini sering disebut juga sebagai rumah tujuh Suku. Hal tersebut merujuk kepada suku-suku lokal yang tinggal di kawasan tersebut.
Pada kawasan tersebut setidaknya terdapat tujuh suku lokal yang hidup di kawasan Taman Nasional Lorentz.
Budaya suku lokal termasuk sebagai salah satu budaya tertua di Indonesia, Diperkirakan budaya atau adat istiadat lokal sudah ada sejak 30.000 tahun yang lalu.
Bagaimana sob apakah tertarik untuk menjelajahi Danau Habbema? (Bayu Prambudi Susilo)
Editor : Meitika Candra Lantiva