RADAR MALIOBORO - Antusiasme publik membanjiri acara pembukaan Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 pada Sabtu (2/8/2025) malam.
Seluruh 500 kursi yang tersedia di dalam gedung terisi penuh.
Bahkan, banyak penonton yang rela berdiri di lorong-lorong maupun duduk lesehan di depan panggung.
Suasana padat tak mengurangi kenyamanan, justru menambah kehangatan dalam atmosfer kebersamaan para pecinta sastra dari berbagai kalangan dan daerah.
Kegiatan berlangsung meriah melalui seremoni artistik yang digelar di Concert Hall Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan.
Mengusung tema Rampak: Merayakan Akar, Menyemai Makna, pembukaan ini menjadi puncak selebrasi sastra yang berlangsung selama enam hari, sejak 30 Juli hingga 4 Agustus yang dikemas dalam berbagai rangkaian.
Di antaranya, menghadirkan paduan puisi, musik, tradisi, dan apresiasi literasi dari berbagai penjuru tanah air.
Baca Juga: ORASI Savings Bond Ritel Seri SBR014: Pilihan Berharga untuk Hidup Lebih Terencana
Malam dibuka dengan pembacaan puisi bertema rampak dan sastra, diiringi alunan suling yang menyayat keheningan.
Suasana sakral dilanjutkan dengan tembang sinden Pangkur Singgah Singgah Pangkur Gedhong Kuning (pelog nem) yang dibawakan Angita Yuri, diiringi gender oleh Pandu Jalu Wicaksono.
Perpaduan antara puisi dan bunyi menjadi simbol keterhubungan antartradisi, sekaligus penanda bahwa sastra di Yogyakarta tidak lepas dari akar budaya lokal.
“Kami mengambil tema Rampak karena maknanya sangat dalam, tentang harmoni dalam perbedaan,” ujar Yetti Martanti, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja, dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa tema tersebut membuka ruang partisipasi lebih luas bagi masyarakat dari berbagai daerah.
Di akhir sambutannya, Yetti membacakan puisi Di Langit Utara Jogja karya Nurul Latifah, sebagai simbol penghormatan terhadap penyair perempuan.
Sekretaris Daerah Kota Jogja Aman Yuriadijaya, menekankan pentingnya puisi dalam merepresentasikan ruang batin kota.
“Puisi bisa menjadi cara kita memahami keindahan Yogyakarta, tidak hanya secara visual, tetapi juga secara emosional,” ucapnya.
Malam pembukaan juga menandai puncak Anugerah Sayembara Puisi Nasional FSY 2025. Lima pemenang terpilih menerima penghargaan tersebut.
Pembukaan Festival Sastra Yogyakarta 2025 bukan hanya seremoni seremonial, melainkan pengalaman kolektif yang menghidupkan puisi sebagai ruang pertemuan, ekspresi, dan keberanian menyuarakan zaman.
Dalam semangat Rampak, sastra tidak sekadar teks, namun adalah gerak budaya yang tumbuh bersama denyut masyarakat.
Editor : Meitika Candra Lantiva